Tampilkan postingan dengan label delta no kira. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label delta no kira. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juli 2009

Jing-Le Bells (DNK) NC-17 [Part 3]

“Aku dapet apaan nih?” Iguana membuka kotak yang dijulurkan Nagini dengan penuh gaya. Sesaat kemudian ia menjerit senang seperti anak gadis. “SS2 Rifle! Senjata yang kuincar dari dulu! Kau dapat di Zweihander ya?”

“Ya iyalah. Di Zweihander, aku bisa menemukan semua senjata dari seluruh penjuru dunia.” Nagini menatap Ryuuji. “Aku tak bisa menduga apa kesukaanmu, Ryuuji, tapi kubelikan kau ini. Aku coba mengontak Dragon Town untuk bisa mendapatkannya.”

“Apa ini—wah,” Ryuuji tersenyum senang. “Satu set biskuit seri senjata. Aku selalu mengangankan memiliki sekotak untuk disantap dengan teh hangat.”

“Kalau begitu mari kita ke rumahku dan menghangatkan diri,” ajak Icha. “Aku dan Nagini baru saja menyeduh teh. Dan ada puding apel panggang yang bisa kita makan. Aku sudah bikin kustar.”

Ryuuji nyengir. “Kalau begitu tunggu apa lagi?”

Maka mereka berempat berjalan menuju rumah Icha dan Nagini, tertawa-tawa riang membayangkan banyak makanan lezat untuk disantap nanti—dan satu malam menyenangkan yang bisa mereka lewati.

***

Icha terbangun, matanya terasa sangat berat karena kantuk. Apa yang terjadi? Dia nyaris tidak ingat. Ia merasakan tempat ia tidur. Lembut, hangat, familier. Dia tidur di kamarnya, di tempat tidurnya sendiri. Bagaimana dia bisa sampai ke sana? Icha meraba ke sebelahnya dan mengejang kaget. Ryuuji di sebelahnya. Pemuda yang bertelanjang dada itu tertidur lelap. Ingatan perlahan menghujani Icha. Genggaman tangan Ryuuji yang terasa hangat di pergelangan tangannya, rasa manis lidah Ryuuji di lidahnya, tangan yang menggerayang di atas tubuhnya—

Icha turun dari ranjang, menyadari bahwa ia hanya setengah berpakaian. Tentu saja, ia tahu apa yang terjadi tadi malam—ini sekitar jam tiga pagi—dan kuharap kau mengerti apa maksudku, supaya aku tidak perlu menjelaskannya. Icha memakai jaket asal-asalan tergantung di bahunya dan memandang ke tempat tidur Nagini di seberang ruangan. Tempat tidur itu kosong, dan seprainya masih rapi. Kasur itu masih belum ditiduri. Icha mengendap-endap dan mengintip dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka. Iguana dan Nagini tertidur di sofa, berada dalam posisi sendok—keduanya berhadapan ke arah yang sama, tangan Iguana di pinggang Nagini. Jaket Nagini dan Iguana sudah dilepas, dua-duanya tergantung di bagian punggung sofa—tapi mereka berdua masih berpakaian. Iguana tidak melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Ryuuji kepadanya. Icha mendesah, menutup pintu rapat-rapat, merasa pusing dan agak malu.

Pasti akibat alkohol. Icha ingat Nagini menyodorkan minuman itu ke depannya, dan Ryuuji dengan lembut dan menggoda membujuknya untuk meminum cairan laknat itu…membuatnya hilang akal sehat. Ryuuji dengan mudah bisa membawanya pergi. Dan tentu saja, Nagini dan Iguana tidak akan mencegah…mereka berdua toh punya urusan sendiri…

Icha kembali ke tempat tidurnya, menyusup ke dalam pelukan sang pemuda berambut kuning yang tertidur. Yang jelas ia harus tidur dulu, baru memikirkan masalah ini dalam-dalam. Ia toh bisa bicara dengan Ryuuji nanti.

Bukan untuk marah-marah. Ia tak tahu mau bicara apa.

Yang jelas, ia tahu ia akan bicara. Tapi semua itu bisa menunda pagi nanti. Atau siang, atau malam. Atau sebulan lagi, setahun lagi juga bukan masalah.

Biarkan dia dalam kehangatan pelukan Ryuuji untuk sesaat saja.

-end-

[MAKJONG KENAPA GW MALAH BIKIN NC-17 MAKJOOOOONGGGG!!!!! *headdesk*

Asli padahal tadinya gw mau bikin romance aja. ASELI. Tadinya tuh endingnya mau mereka berempat ketiduran di sofa tumpuk-tumpukan gitu, dengan keadaan dapur berantakan abis. Yeah, tadinya maunya gitu.

Kok jadinya gini yah. Tahu ah. Cha, jangan bunuh gw, oke? *sembunyi di balik Igu*

MUNGKIN INI AKIBAT DENGERIN SPICE SEPANJANG HARI. Len sialan.

Tahu ah tahu ahh. Yang jelas kalo masih anak-anak jangan ngebaca ini yaaa *towel-towel sok suci* *digampar*

Jangan sampe guru gw ngebaca iniiiehhhh *crossfinger*]

Jing-Le Bells (DNK) NC-17 [Part 2]

“Tidak, tapi ini enak banget, sumpah,” Nagini mengambil satu lagi. “Akhirnya ada orang lain yang memberiku hadiah Natal selain buku. Kenapa tidak ada yang memberiku sesuatu yang dibuatnya sendiri?” Nagini merengut.

“Hadiahku tidak sebanding dengan batu Nagamani,” sergah Icha, menyelesaikan dekorasi kuenya.

“Paling tidak kau buat sendiri, dengan begitu menjadikannya satu-satunya di dunia,” kata Nagini halus. “Vasuki bisa menumbuhkan batunya kembali, dan dalam jangka waktu beberapa tahun, akan ada penyihir yang mencuri Nagamani lagi. Kalung itu tidak selangka yang kau pikir, walaupun mendapatkannya terlihat sulit.” Nagini mengambil teko air dan menjerang teh. “Sementara sesuatu yang dibuat sendiri tidak akan ada bandingannya di seluruh dunia.”

Icha tidak ingin membantah argumen itu. “Omong-omong, hadiah apa yang akan kau berikan kepada Iguana?”

Nagini nyengir. “Sesuatu yang kudapat dengan koneksi di Zweihander. Aku pernah membantu si pemilik toko.” Nagini melirik oven. “Apa yang sedang kau masak disana?”

“Kau akan menyukainya. Kurasa sudah cukup matang,” Icha menghampiri oven dan mengeluarkan apel panggang. Daging buah itu rapuh, putih dan lembut, sedangkan mentega dan gula telah membuat apel itu manis. Icha juga sudah membuat kustar (susu-telur manis) dan krim untuk melengkapi apel panggang itu. Icha menyajikan dua apel ke dua piring, memberi sausnya, dan memberikannya ke depan Nagini. Nagini menyantap sesendok. Ia mengerjap.

“Ini,” engahnya. “adalah puding Natal paling enak yang pernah kurasakan.”

Icha tersenyum sebagai jawaban dan menyantap satu. Ia sendiri juga bangga dengan puding itu, walau tidak mengatakannya keras-keras.

“Jadi, apa kau juga akan memberikan biskuitmu kepada Ryuuji?” tanya Nagini mendadak, membuat Icha langsung tersedak. Nagini menyodorkan secangkir teh.

“Terima kasih,” Icha meneguknya, lalu ketika menurunkan cangkirnya, wajahnya sama merahnya seperti baju yang dipakainya. “Yah, kurasa iya. Aku tak punya uang untuk membeli sesuatu untukmu dan dia.”

“Aku jatuh cinta dengan biskuit itu,” Nagini menjungkirkan kursinya pada dua kaki belakang, memandang Icha dengan binar jenaka. “Dan kurasa harusnya Ryuuji juga begitu. Pilihlah biskuit yang paling bagus buatannya dan yang paling tidak gosong, hias seindah mungkin dengan decopen, lalu berikan padanya.”

“Apa kau pikir dia akan senang?” Icha memandang Nagini sedih.

“Hei, aku sudah membongkar rahasia kepribadian lelaki sejak aku duduk di taman kanak-kanak. Apakah kau tidak percaya padaku?”

Icha memandang gadis glamor yang mengedipkan mata itu, dan seketika percaya. Bagaimanapun, Nagini mengenal jiwa lawan jenisnya hampir seperti ia mengenali tangannya sendiri. Ia bangkit dan berlama-lama memilih biskuitnya, mengambil yang paling besar dan memasukkan yang kecil-kecil ke dalam plastik berhias, lalu mengikatnya dengan pita sederhana. Terakhir ia memeluk leher Nagini singkat, lalu menyambar syal dan jaket dari gantungan di samping pintu.

“Terima kasih!” dan ia menghilang.

Nagini tersenyum ke arah pintu yang menutup, lalu menghirup tehnya lagi.

***

Icha berlari kecil di sekitar komplek Fighter Academy yang seluas desa kecil itu. Bukan tabiat Ryuuji dan Iguana untuk tinggal di rumah saat malam Natal—mereka pasti keluyuran kemana-mana. Bahkan Nagini seharusnya juga keluyuran, tapi ia pulang, tentu saja, karena tahu Icha menunggu di rumah. Dulu ketika Nagini hidup sendirian, ia bisa pulang pagi dengan kesadaran sudah nyaris hilang karena mabuk. Keberadaan Icha-lah yang mencegahnya untuk tidak mabuk-mabukan setiap malam seperti dulu—yeah, dia masih mengkonsumsi minuman keras, tapi tidak sesering dulu lagi—dan ia juga tidak pernah pulang pagi. Paling banter tengah malam.

Ia sedang melewati taman bermain ketika mendengar suara bola yang ditubrukkan ke pohon. Siapa yang ingin bermain bola di luar saat malam Natal—kecuali, tentu saja, Ryuuji? Icha menoleh. Benar dugaannya, itu memang Ryuuji, kedua tangannya di kantong sementara kakinya memainkan bola sepak dengan piawai.

“Ryuuji!” Icha berlari menghampirinya. Lalu sosok lain muncul dari balik pohon.

“Hei, Laevaeisen!” sapa Iguana. “Apa kabar? Sedang apa kau diluar saat malam Natal? Setahuku kau bukan Nagini.”

Aduh, gawat. Dia kan tidak menyediakan apapun untuk Iguana. Icha mencoba bersikap tenang.

“Jangan panggil aku Laevaeisen kenapa. Bagaimanapun kau kan sudah kenal aku.”

“Baik, baik,” Iguana menatap Ryuuji dan Icha bergantian. “Jadi, kenapa kau keluar malam, Icha? Mau ke rumahku? Aku lapar banget nih.”

“Ng, kalau begitu makan saja ini,” Icha mengeluarkan bungkus biskuit dari kantong jaketnya. “Kebetulan aku sedang bereksperimen dengan biskuit.”

Ryuuji memandang biskuit di kantong transparan itu dengan mulut ternganga, wajahnya bersemu sedikit. Iguana bergerak gelisah, merasa ia sangat mengganggu.

“Euh, aku pulang ya?”

“Jangan!” cegah Icha. Keadaan akan menjadi canggung kalau Iguana pergi. “Cicipi saja kueku. Bagaimanapun aku butuh pendapat banyak orang.”

“Kau yang buat, nih?” Ryuuji mengambil kantong kue itu dan memandangnya. “Bisa dimakan nggak?”

“Jahatnya! Aku membuatnya dengan mengorbankan sepuluh jariku!”

“Buset, bikin biskuit aja jari nyaris ancur gitu. Aku jadi kepingin lihat rupa tanganmu setelah membuat kue tart.”

“Sudah ah, Ryuuji, mending dimakan biskuitnya.” Iguana memiringkan kepalanya. “Aku boleh ambil kan, Cha? Boleh? Baiklah,” ia merogoh kantong di tangan Ryuuji dan menggigit satu biskuit. “Hei, ini tidak buruk! Enak juga, Cha!”

Icha tersenyum ceria. “Bener kan? Nagini aja muji.”

“Minta lagi, dong—“ Iguana mencoba mengambil satu biskuit lagi, tapi Ryuuji menjauhkan kantong biskuitnya.

“Enak aja…” Ryuuji merengut, wajahnya makin bersemu. “…ini kan buat aku!”

Hening sejenak. Lalu Icha langsung menunduk, telinganya tampak seperti sayatan daging mentah, sementara Iguana tergelak-gelak.

“Coba, Ryuuji, tadi bilang apa? Kurang kedengeran…”

“Iguana apaan sih?!”

“Ini lagi bertiga malah ribut-ribut disini. Nggak kedinginan ya?” terdengar suara dalam yang dewasa dan Icha mendongak. Iguana dan Ryuuji berhenti bergumul di tengah udara. Nagini tersenyum, tangannya menenteng satu kantong belanja warna coklat. “Hai, Ryuuji. Sebaiknya makan semua biskuit itu sebelum dingin dan tidak enak lagi. Icha sudah susah payah membuatkannya untukmu. Omong-omong,” Nagini memandang Iguana, sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi yang terjadi di wajah Icha dan Ryuuji ketika ia berbicara—wajah keduanya berpendar seperti matahari terbenam. “Nih, Igu-kun. Kubelikan kau ini, mumpung aku lagi punya duit.”

Jing-Le Bells (DNK) NC-17 [Part 1]

[Hei semua, Sasha Kieselstein ish baa~ck XD gw lagi ngalor ngidul kea orang geje gini, terus memutuskan buat bikin fanfic singkat-nya Delta No Kira. Setting cerita ini pas mereka masih kelas 2 SMP--jadi Nagini dan Icha udah ketemu sama Ryuuji dan Iguana (Icha ketemu Ryuuji pas SD, Nagini ketemu sama Iguana pas kelas 1 SMP). Nagini dan Icha juga belum bertengkar, mereka masih sama-sama murid di Fighter Academy, tapi FA waktu itu belom asrama--jadi Nagini sama Icha tinggal serumah, sementara Ryuuji dan Iguana serumah di rumah laen. Nagini sama Icha udah masuk Delta, tapi waktu itu Delta masih normal, dan Icha juga belom jadi ketuanya (Icha jadi ketua pas mereka beranjak SMA). Cerita gak jelas ini romance normal. OMG gw udah lama kehilangan sense normal gw ;A; kebanyakan yaoi keanya...orz]

***

Benda putih melayang turun, hinggap di tangan telanjang Icha yang mulai membiru.

Gadis itu mendongak. Butiran-butiran salju yang lain, serupa tapi tak sama, turun merayap pelan-pelan ke jalan batu. Cuaca memang sudah mulai mendingin. Ia ingin cepat-cepat sampai rumah. Icha merapatkan baju hangatnya dan mulai berlari kecil menuju rumah kecilnya yang hangat.

Hari ini tanggal 24 Desember, malam Natal. Ia mungkin akan merayakannya sendirian lagi, seperti tahun lalu. Ah, tunggu. Bukankah Nagini tinggal bersamanya? Tapi tidak, gadis itu sesibuk lebah pada malam musim semi. Berani taruhan, dia pasti belum pulang ketika Icha tiba di rumah nanti. Bagaimana dengan Ryuuji? Icha bisa merasakan wajahnya menghangat ketika mengingat itu. Ah, Ryuuji--

--mana berani Icha mengajaknya pergi?

Icha membuka pintu rumah. "Aku pulang."

Tidak ada jawaban. Nagini memang belum pulang. Bodoh sekali mengharapkannya pulang dibawah jam tujuh. Icha menaruh barang bawaannya di meja makan, lalu menandai kalender. Setelah menghidupkan heater di ujung ruangan, ia duduk di kursi sambil membuka lasagna dingin yang baru ia beli tadi. Icha ingin menghemat pengeluaran dan hanya membeli makanan yang cukup murah. Menyantap makan malamnya tanpa berselera, ia merenung. Bagaimanapun, ini Natal. Masa ia tidak membelikan apa-apa untuk Nagini? Tapi ia defisit--benda apa yang cukup murah tapi bermutu untuk dihadiahkan kepadanya? Nagini selalu punya uang--gadis yang hidup glamor dan menyukai dunia malam itu, anehnya, selalu punya uang. Mungkin karena ia kerja sambilan. Sementara Icha sendiri lebih fokus pada kegiatan Delta--dan Delta kan tidak memberikan gaji. Nagini mengikuti Delta hanya jika kegiatannya menurutnya menarik. Gadis berambut cyan itu malah terkadang hanya peduli pada seberapa banyak imbalan yang ditawarkan.

Icha beranjak ke kulkas dan membukanya. Bisa dilihat, sebagian besar barang yang ada didalamnya milik Nagini. Nagini selalu menstok bahan makan malam, belum lagi ditambah berbagai minuman--beberapa diantaranya minuman keras, yang dijauhi Icha sekuat tenaga--dan makanan kecil yang bisa dimakan sambil menonton televisi malam-malam. Burito, nachos, brioche, mi cup instan. Tapi Nagini selalu membolehkan Icha mengambil apa saya miliknya di dalam kulkas.

"Apa yang ada di dalam kulkas berarti milik kita berdua. Kalau ada sesuatu yang aku tak ingin kau memilikinya, pasti kutaruh di kamar."

Nagini selalu berkata begitu. Tapi kecuali ia benar-benar lapar dan kehabisan makanan, Icha mengusahakan memakan makanannya sendiri. Bagaimanapun, semua makanan itu hasil jerih payah Nagini bekerja sambilan. Icha mengintip lagi ke dalam kulkas, mencari minuman yang ia miliki. Ah, soft drink terakhir miliknya sudah habis kemarin. Dengan enggan, Icha meraih sebotol teh dingin punya Nagini, menghindar dari kaleng-kaleng minuman keras yang berderet di sampingnya, lalu meneguk teh itu. Selanjutnya, ia merogoh ke almari, mencari kue sisa kemarin. Ia membuka kotaknya. Yang tersisa tinggal remah-remah.

“Ah,” ia bicara sendiri. “Kelihatannya Nagini memakannya tadi malam.”

Ketika Icha membuang kotak kue itu ke tempat sampah, ia mendapat ide bagus. Kenapa ia tidak membuat saja biskuit untuk Natal? Bagaimanapun, Nagini suka makanan manis, bisa dibuktikan dari kemampuannya menghabiskan sekotak besar biskuit dalam waktu semalam. Icha mengeluarkan semua belanjaannya dan, sambil memeriksa almari dan kulkas beberapa kali, mendapatkan semua yang ia butuhkan. Mentega, gula, telur, tepung. Dimana terakhir kali ia menyimpan decopen? Dan kuas kue? Ah, ini dia, dibawah almari. Setelah memastikan semua yang ia butuhkan ada, ia mulai bekerja.

Ia mencampur mentega, gula, putih telur, dan tepung dalam satu mangkuk besar, lalu mengaduknya perlahan. Setelah adonannya lembut dan rata, Icha memasukkannya ke dalam kulkas selama setengah jam. Sambil menunggu, ia menjerang air untuk membuat teh dan memanaskan decopen nantinya.

Setelah setengah jam, Icha mengeluarkan adonan yang sudah dingin dari kulkas dan menggilingnya diatas tatakan yang sudah ditaburi terigu, lalu mencetaknya dan menaruhnya hati-hati diatas loyang. Setelah memoles bagian atas biskuit itu dengan kuning telur, Icha memasukkannya ke dalam oven. Sementara menunggu biskuitnya dipanggang, ia berpikir lagi. Masih ada sisa apel di kulkas, bukan? Nagini membeli sekeranjang penuh ketika obral akhir musim gugur. Tinggal sisa apel yang masih hijau karena yang merah sudah habis dimakan dirinya dan Nagini. Apel hijau itu masam dan tidak akan enak untuk dimakan seperti biasa—tapi kalau tidak dimakan, apel itu akan segera busuk. Icha punya ide lain untuk memakan apel itu tanpa perlu menunggunya benar-benar masak.

Ia mengeluarkan apel-apel, itu, mencucinya, lalu—dengan menggunakan pisau khusus—mengeluarkan bijinya. Dimasukkannya apel ke dalam panci, dia bubuhi mentega sisa membuat kue tadi dan gula cokelat, lalu menunggu lagi sampai biskuit di dalam oven matang benar. Icha mengeluarkan biskuit dari dalam oven, dan ganti memasukkan panci berisi apel itu ke dalam oven.

Ketika ia sedang menghias biskuit dengan decopen yang sebelumnya sudah direndam dalam air panas, pintu menjeblak terbuka dan sesaat angin yang luar biasa dingin menghembus ke arah Icha sebelum pintu itu tertutup lagi. Di depannya, Nagini sedang berdiri, membawa dua tas belanja di kedua tangan dan satu tas lagi digigitnya—saking penuhnya tangannya.

“Haku hulang,” katanya tidak jelas sebelum menaruh tas-tasnya di meja dan merosot kelelahan di kursi. “Toko kado di Eriole penuh sesak. Aku nyaris tidak bisa menyelinap di antara para pembeli yang bersemangat untuk mengambil souvenir bagus—padahal kau tahu betapa kurusnya badanku.”

Nagini bicara jujur dan Icha tahu itu. Badan Nagini langsing dan dia selincah kucing, Icha sendiri tak bisa membayangkan Nagini susah bergerak. Pasti Eriole benar-benar penuh sesak.

“Apa yang kau belikan untukku?” Icha nyengir, kembali memandang biskuit yang sedang ia hias.

“Nih,” Nagini mengeluarkan kotak dari tas belanjanya. “Butuh waktu lama untuk membujuk yang punya melepas ini dengan harga yang cukup pantas. Eriole memang punya banyak penyihir, tapi pelit-pelit semua.”

Icha meletakkan decopen dan membuka kotak itu, lalu mengeluarkan benda yang ada di dalamnya. Rantai emas berkilauan, dengan liontin batu permata berkilauan yang dipoles dengan ketekunan luar biasa. Ini bukan buatan tangan—pasti sihir.

Melihat Icha yang menatap lekat-lekat liontin kalung itu, Nagini menjelaskan. “Itu batu Nagamani asli yang diambil langsung dari dahi Vasuki, raja ular di lepas pantai Negeri Lemuria. Batu legendaris yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit selama kau memakainya.”

“Setahuku batu Nagamani mengambil kekuatan dari manusia jika ia akan menyembuhkan seseorang,” Icha menatap curiga ke arah Nagini.

“Memang,” kata Nagini enteng, menaruh belanjaan malam Natal-nya di dalam kulkas. “Sudah kuatur agar ia mengambil alih kekuatanku jika sesuatu terjadi padamu—yah, selama kau memakainya.”

Itu merupakan sebuah hadiah yang tak ternilai harganya, belum lagi ditambah dengan pengeluaran yang harus dikeluarkan Nagini ketika mencari, membujuk sang empunya untuk melepas kalung itu, dan membelinya dengan harga selangit—dan Icha ternganga tak bisa bicara. Nagini kelihatannya tidak sadar sama sekali.

“Jadi,” ia menoleh dan memandang biskuit di loyang. “Apa itu hadiah untukku?”

Icha tergagap. “Ini…”

“Kalau iya, bagus deh,” Nagini mencomot satu dan memakannya dengan senang. “Aku tidak tahu kau bisa masak, Icha.” Ia mengerjap. “Hei, ini lezat. Rasanya tidak buruk. Kerja bagus!”

“Yah, aku memang tidak bisa masak,” Icha nyengir dan menunjukkan tangannya yang melepuh dan berdarah dimana-mana. “Padahal cuma kue saja tapi bisa separah ini, menakjubkan benar kemampuanku.”

Selasa, 14 Juli 2009

Kyaha~ Sankyuu~

Hahah, baru OL skarang neh =w= *boong banget* *ditabokin Shota*

Gw baru aja ngecek berbagai account yang gw punya: Gmail, DA, FB (gak gw apa2in yang satu ini. Punya friend aja kagak, gw gak niat bikinnya nih), blog-blog orang, dst. Gmail, gw sampe capek ngerjainnya. Banyak banget incoming message-nya, gak mungkin gw bukain atu-atu. Lagian sehari tuh email gw bisa dapet 15, masa gw tinggal tiga hari gw buka 45 message? Gempor duluan lahh.

Yah well, pokoknya, kerjaan gw sedikit terbantu karena Luka.

Di blognya dia bikin...er, fanart apa bukan yah...yang jelas dia bikin Kai (yang notabene OC-nya dia) tapi dalam versi DNK yang merupakan cerita gw. Bagus, gw bersyukur banget, karena gw gagal mulu bikin Kai *sepak Kai* *dibunuh yang punya* dan dengan ini, gw lumayan terbantu--apalagi gw gak usah ngedesain weapons lagi, karena Luka udah bikin. Puji tuhan, gw aja udah nyaris mati bikin pistolnya Igu, lahh masa gw ngedesain buat Kai lagi. Dengan fanart-jadi-jadian itu gw terbantu, karena gw masih harus ngedesain weapons buat Aoi =_= *headdesk* gw seh pengennya kea weaponsnya Black Rock Shooter, tapi keanya susah banget ya...liat Luka deh, kalo dia ada bikin weapons tersendiri buat Aoi, gw ngikut desain dia. Bagaimanapun ini kan OC dia.

And yeah, gw cukup seneng Luka memperhatikan DNK dengan baik. Ya, Kai merupakan seorang antagonis--sebelum dia sadar apa yang dia lakukan. Dia sadar kalo Masternya, Icha, menciptakan dan memanfaatkan dia untuk hal-hal buruk. Ketamakan Icha mempengaruhinya untuk membuat Kai sesempurna mungkin, maka ketua Delta itu memasukkan KOKORO ke dalam tubuh Kai *coughvocaloidsmcoughcough* dan hati nurani Kai segera menyadari untuk apa dia diciptakan ketika melihat Nagini yang nyaris terbunuh. Tapi secara umum, dia nggak mungkin membantah perintah Icha. Jadi, dia membunuh dirinya sendiri. Wew. I love death.

Walaupun begitu, satu hal masih gw pikirin tentang DNK. Endingnya. Yang jelas sih Nagini dkk memenangkan pertarungan, tapi nasib Icha dan Ryuuji? Apakah mereka berdua terbunuh, masuk penjara, atau dimaafkan? Kalau terbunuh, berarti ide gw soal Delta No Kira 2: The Spider's Rebellion gak mungkin terlaksana, karena di cerita itu Icha dan Ryuuji terpaksa kerjasama dengan Nagini dkk untuk membunuh Tarantula. Kalo DNK 2 mau dibikin, Icha tak bikin mati ^^ *ditusuk Luka* Kalo dimaafkan, kok kayaknya gak rasional ya. Bagaimanapun, perang besar-besaran di Delta HQ pasti akan segera diketahui oleh penduduk Cittagazze. Dan mana mungkin Nagini dkk ngebawa Icha dan Ryuuji kabur cuma karena Nagini memaafkan mereka berdua? Nagini ikut jadi buronan dong. Penduduk Cittagazze udah gedeg sama Icha dan Ryuuji.

Jadi pribadi gw sih milih mereka masuk penjara, tapi bakalan gw pikirin sesuatu supaya endingnya lebih berkelas daripada sekedar "pembalasan dendam" yang kacangan. Atau mungkin gw tanya Luka aja? Entahlah. Yang jelas sih gw pengin lw, Luka, kalo lw ngebaca ini, gw pengin tahu pendapat lw. Bagaimanapun lw nolak gw kayak apa, gw masih mengormati lw sebagai pemilik OC-OC lw yang gw pinjem dan gw minta pendapat lw untuk endingnya. Seperti apa ending yang lw inginkan? Jangan nulis disini, bagaimanapun nama lw masih tertera di Danger List (lagian, gw rasa lw cukup pinter buat nggak nulis disini. MASTERspy bisa muntab). Tulis aja something di blog lw, seperti lw masukkin "fanart" Kai. Kalo nggak mau nggak apa-apa, sih...gw usaha sendiri kalo gitu. Yah, gw agak lelah kerja sendiri, gw butuh dua otak buat ngerjain ini.

Okeh. Gw lagi pengen ngerjain The Unbreakable Chain yang baru lagi, tapi kok males ya. Lagi males bikin chain-yang-melilit-sana-sini. Pada akhirnya, gw bikin Angel and Demon aja--Nagini angelic, Icha demonic. Hahahaha LOL. Yang Nagini belom dibikin, tapi yang Icha udah selese. Anjrit...jadi beda banget. Jadi keliatan cewek. Oh noes.

Udah gitu bikin baju semi-gothic lolita buat Icha itu susah mampus.

Renda itu laknat. LAKNAT ANAK MUDA.

*injek-injek gambar sendiri* *ngesot*

Pengen bikin Nagini kok males ya. Duh nanti aja ahh. Gw mau pacaran sama Iguana dulu.

*dilempar pembaca*

Senin, 15 Juni 2009

I Got Aoi! I Got Aoi! *tabokmeplz*

Hahahahaha. Akhirnya dapet juga gambar Aoi. Lagian desain lamanya Luka yang gw punya--satu-satunya tuh--kurang memadai, gambarnya Aoi pas itu kecil banget, sih. Akhirnya gw bisa juga dapet gambar Aoi yang rada gede =w= <==orang yang seenak udel nyuri banner orang

Oh iya, gw belom ngelanjutin spoiler, kan? Here it is =w=

SPOILER ALERT! Don't read if you don't like spoilers and wanna feel an extra adventurous feeling while reading this sequel later.

Setelah keluar dari rumah sakit, Nagini, Iguana, Shota, dan Selena mulai menyusun rencana perjalanan. Demi menghindari kelaparan di tengah jalan, mereka berempat memutuskan untuk mengambil jalur yang agak memutar, melewati berbagai kota agar bisa mengisi ransum.

Kota pertama yang mereka datangi adalah Eriole (nama bisa berubah nanti =w=). Kota itu adalah kota yang damai, dengan Sungai A (nama belum ditentuin nyuu~) mengalir di tengah-tengahnya, dan seluruh penduduk kota bergantung pada sungai itu. Disana, mereka berempat bertemu dengan Ayane (Ayane Mika Astaire, copyright to Ayanemika), gadis cantik tinggi bohai (hahaha lol...gw mo bikin nih orang kea Megurine Luka biar cocok sama image "nyebelin") yang tiba-tiba aja langsung naksir sama Iguana, dan mulai bertingkah bitchy gitu buat ngedapetin tuh cowok, ngebuat Nagini kesel setengah mati. Yah, alur cerita disini belum fix banget, gw rencana mau bikin Nagini sama Ayane bertarung sihir (Sierra-nya Ayane sihir soalnya), dan nanti Nagini bakalan menang setelah gerilya abis-abisan, lagian Ayane kek avatar gitu, sihirnya ngendaliin aer. Gw masih mikir mau ngebuat si Ayane ini akhirnya damai ato nggak sama Nagini.

Kota kedua adalah kota tua yang anggun, Zweihander. Kota ini merupakan kota yang bersejarah, seluruh penduduknya kuat dan terlatih untuk mempertahankan diri sendiri, dan kebanyakan tangguh. Disini, keempat Delta no Kira bertemu dengan Kakeru (Kakeru Adesa Nawa, copyright to Adesa-kun) yang, mirip Ayane, ternyata merupakan momok tersendiri lagi. Kakeru berusaha pdkt abis sama Nagini, dan Nagini juga sebenernya rada kagum-ramah gimana gitu sama Kakeru ^^; hal ini bikin Iguana gedeg, dong. Disini ada sesuatu yang lebih menarik--Kakeru nyulik Nagini dan ngunci tuh cewek di kamarnya, sementara Iguana yang baru sadar kalo Nagini ilang sedang berusaha menuju rumah Kakeru. Nyampe disana, Iguana bertarung senjata abis-abisan sama Kakeru (yeah, Sierra-nya Kakeru weapons) tapi ada teriakan dari arah taman belakang, maka Iguana, Shota, Selena, dan Kakeru bergerak ke sana. Ternyata, di balkon kamar Kakeru di lantai dua, Nagini sedang berusaha mempertahankan diri--ada seseorang yang sedang bertarung melawannya, dan orang itu memakai...kalung dan seragam Delta. Nagini makin terdesak ke pinggir, dan akhirnya ia terjatuh--Iguana menangkapnya tepat pada waktunya. Sang anggota Delta lari, dan Shota juga Selena melompat mengejarnya. Lalu ada sedikit percakapan antara Iguana dan Kakeru, dan Iguana juga coughnyiumceweknyacough biar Nagini nggak berontak gitu digendong bridal style =w= kan Nagini pingsan kalo dicium...terus Shota dan Selena balik bawa tubuh si anggota Delta yang mati ditusuk Selena >_< dan ketahuan kalo dia adalah Shinji Kazuki, salah satu anak buah Icha. *OC Luka yang gw ambil secara semena-mena juga*

And they're heading home. Paginya, Kakeru dateng sendiri ke penginapan tempat keempat Delta no Kira menginap buat meminta maaf atas kejadian kemarin, yang agak melukai Nagini--kalo bukan karena itu, keknya sih dia sebodo. Kakeru akhirnya diterima, terus diajak masuk buat ngeteh. Kakeru memberi peringatan Delta no Kira soal kota berikutnya yang akan mereka tuju--Dragon Town. Kakeru bilang, Dragon Town bukan kota yang aman dan santai seperti Eriole atau Zweihander. Dragon Town adalah kota perdagangan yang cuacanya selalu buruk dan gelap, kriminalitas dimana-mana, dan perbudakan merajalela. Kakeru menekankan ahwa penginapan Dragon Town luar biasa buruknya--bisa dijamin uang para penginap akan hilang keesokan paginya, lagipula tempat tidurnya penuh kutu--jadi Kakeru menyarankan dengan amat sangat agar mereka tidur di luar kota. Tapi Kakeru mengakui bahwa makanan Dragon Town luar biasa lezatnya, dan senjata-senjata yang dijual disana berkualitas tinggi. Maka keesokan harinya, mereka keluar dari Zweihander diantar oleh Kakeru, dan menuju Dragon Town.

Spoiler to be continued again~ *brb kabur ngesot*

Sabtu, 13 Juni 2009

Delta no Kira, Start To Make...

Yak, akhirnya yang gw cari dari dulu dapet juga.
Bego banget ya gw, kok gw bisa ngelewatin bagian itu sih.

Ehm, gini. Berhubung gw lagi nulis Delta no Kira, dan notabene Delta itu copyrightnya di Luka, maka gw nggak bisa bikin alur ceritanya seenak perut, dong. Yah, walaupun gw gak minta ijin ke dia--dengan seenak perut langsung bikin aja dengan ngambil nama organisasi dan 4 OC-nya dia--tapi sebagai respect karena gw langsung ngambil, gw tetep mempertahankan simbolisme Delta--baik dari seragam maupun dari logo. Dari pagi gw ngubek-ngubek devnya Luka dan mendapatkan banyak example seragam. Gw gak tahu persis sih dia bikin desain baru apa kagak, tapi andaikan iya, yah paling nggak itu membedakan Delta yang ada di tangan dia dan Delta di tangan gw. Soalnya sebenernya beda jauh sih--di tangan Luka, Delta itu protagonis. Di tangan gw, Delta adalah antagonis--sebuah organisasi kepolisian yang berubah menjadi brutal dan tidak segan membunuh sejak dikapteni oleh Kaito Icha. Nah seragam gw udah dapet...tapi logo nggak. Waduhh, nyari kemana nih? Gw coba ngebongkar blognya, nggak ada. FS, nggak ada. FB, males buka akun lama gw, males lagi ngeadd dia dulu. Blognya dia yang udah lama banget, nggak ada juga. Akhirnya gw kembali ke dev dengan lesu dan mencoba nyari lagi dengan tampang ngapain-lagi-sih-gw-kesini-orang-nggak-ada-juga.

Ternyata...
ADA.

Siake, kok tadi gw bisa kelewat sih? Yah, tapi akhirnya gw ambil aja tuh gambar, dan gw rasa kliping gw lengkap sudah. Gw punya gambar keempat OC yang gw curi itu--Kaito Icha, Kaito Kai, Kaito Aoi, sama Ryuuji Ouyama. Walo gw bilang keempat tokoh ini antagonis, sebenernya enggak juga--Kaito Aoi bergabung dengan Nagini dkk buat ngehancurin Delta, dan Kaito Kai membunuh dirinya sendiri begitu tahu kalo penciptanya memanfaatkan dia untuk melakukan hal-hal yang kejam. Salah Kaito Icha sendiri juga sih, harusnya android nggak usah dikasih KOKORO, bego. *ngatain cerita sendiri*

Mau liat reviewnya? Beneran nih? Allrite, here we go...

SPOILER ALERT! Don't read if you don't like spoilers and wanna feel an extra adventurous feeling while reading this sequel later.

Kisah Delta no Kira dimulai ketika terjadi kekacauan di Fighter Academy, tempat Nagini Arisu, Iguana Raising, dan Ryuuji Ouyama, ketiga sahabat, bersekolah. Fighter Academy adalah tempat banyak anak-anak penghuni Cittagazze belajar untuk mengasah Sierra mereka--Sierra adalah kemampuan khusus yang dimiliki oleh masing-masing manusia di Cittagazze, dibagi menjadi empat: Magic, Weapons, Swords, dan Martial Arts. Pengacau Cittagazze sedang berusaha untuk mengendalikan sekolah ternama itu, karena menurut logika, siapapun yang menguasai Fighter Academy berarti menguasai sebatalion penuh anak-anak yang kemampuannya terasah, dan itu berarti menguasai seluruh Cittagazze.

Dalam kekacauan penyerangan dari udara itu, Iguana terpisah dari Nagini dan Ryuuji. Mereka berdua berusaha keras untuk mempertahankan diri sendiri, tapi ketika situasi mulai memuncak, burung besi raksasa datang dari kejauhan dengan burung besi lain di belakangnya. Di punggung masing-masing burung itu terdapat pasukan dengan seragam yang ditakuti oleh seluruh Cittagazze--Delta. Kaito Icha, pemimpin organisasi itu, duduk di atas burung besi raksasa yang paling besar di depan. Ryuuji, tanpa memandang Nagini yang sedang sekarat sekalipun, langsung menjulurkan tangannya ke atas--Icha menangkapnya, dan Ryuuji diselamatkan oleh Icha. Mereka berdua terbang pergi dari tempat itu, meninggalkan Nagini yang berteriak ketika Delta mulai menjatuhkan bom ke atas Fighter Academy. Begitulah keganasan Delta--mereka organisasi kepolisian yang selalu berhasil memusnahkan kriminal, tapi dengan nyawa orang-orang lain yang tak bersalah sebagai korbannya. Mereka tidak peduli akan siswa-siswa di dalam FA yang mungkin tak selamat akibat bom itu, prioritas mereka adalah membunuh kriminal.

Nagini terbangun di rumah sakit, dengan Iguana yang kelelahan dan penuh debu pertempuran di samping tempat tidurnya. Setelah terduduk dan merasa berat di bagian belakang, tak seperti biasanya, ia meraba tubuhnya sendiri dan menyadari bahwa tubuhnya lurus dan datar--ia kehilangan tubuh wanitanya. Iguana menjelaskan dengan kalut bahwa Nagini harus dioperasi agar selamat dari luka pertempuran barusan, tapi dengan resiko kehilangan tubuh wanitanya--kehilangan dada dan lekuk tubuh, semuanya. Karena Nagini masih tak sadarkan diri ketika itu untuk dimintai persetujuan, maka dokter meminta persetujuan Iguana yang merupakan orang terdekat Nagini, dan Iguana memilih menyetujui hal itu--daripada Nagini harus kehilangan nyawa.

Iguana mendengarkan cerita Nagini tentang Ryuuji yang kabur meninggalkan Nagini sendirian dengan marah. Mereka berdua menyimpulkan bahwa Ryuuji hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan keadaan Nagini yang sudah sekarat, dan menyebabkan ia terluka parah seperti itu. Nagini tidak menangisi tubuh wanitanya yang hilang, tapi menangisi kepergian Ryuuji, seseorang yang dulu sahabatnya--seorang yang dulu disayanginya. Ketika itulah Shota (adik Nagini) dan Selena (adik Iguana) mendoblak masuk kamar rumah sakit. Selena melapor dengan tenang bahwa ia sudah mencoba mengejar Icha dan Ryuuji yang terbang ke timur laut secepat yang ia bisa, tapi Icha menyihir barikade supaya Selena tidak bisa mengejar. Tentu saja kalau saat itu Nagini yang mengejar, ia bisa memecah barikade itu--kemampuan sihir Nagini dan Icha relatif sama--tapi Selena sama sekali tidak punya kekuatan sihir, dan pedang tidak bisa berbuat apa-apa pada barikade itu. Maka ia kembali pulang.

Setelah banyak penjelasan tentang apa yang terjadi, keempat anak ini mulai menyusun rencana. Nagini dendam luar biasa kepada Delta, khususnya Icha dan Ryuuji, dan ia berniat untuk balas dendam. Tiga yang lain ngotot ikut dengannya, maka Nagini terpaksa membolehkannya--dengan peringatan. Nagini dulu adalah anggota Delta sebelum Icha menjadi kaptennya dan mengubah ideologi Delta menjadi kejam, maka gadis itu tahu beberapa tentang Delta. Nagini tahu bahwa Icha sedang mengembangkan android super yang memiliki keempat Sierra--manusia normal hanya punya satu--bernama Kai. Sebelum ini ada android yang lain, yaitu Aoi, tapi bagi Icha Aoi adalah produk gagal--Aoi tetap hanya mempunyai satu Sierra; weapons, walaupun dia juga kuat dalam Sierra yang lain. Tapi Icha tidak puas dengan itu. Ia menginginkan android yang memiliki kemampuan penuh dalam keempat Sierra--lagipula IQ Aoi tak melampaui 200--hanya mencapai 180. Nagini memperkirakan bahwa android itu seharusnya sudah selesai sekarang...menurut Ryuuji dulu, Kai sudah diselesaikan, dan sukses. IQ-nya mencapai 210, dan dia mempunyai empat Sierra.

Tapi ketiganya tetap ingin ikut dan Nagini terpaksa mengijinkan mereka. Setelah keluar dari rumah sakit, keempatnya mulai menyusun rencana untuk pergi ke Delta HQ--dan membalaskan dendam Nagini!

Spoiler to be continued~ *ditabok*