Tampilkan postingan dengan label nostalgic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nostalgic. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 November 2009

Maap Minnaaaaaa *hagu all*

Maap ya semuanyaaaaaa, entah udah berapa abad gw kagak nulis blog gw lagi *lebay*

Yap, many things happen. Perubahan yang terjadi pada gw pun banyak, ya. Cobaan terberat datang dari salah satu adik kelas gw, yang ternyata memutuskan buat melambungkan gw tinggi-tinggi sebelum menghempas gw ke jurang terdalam. Yah, rasanya nyaris sama lah ya.

Gw nggak mau berurusan sama boy-thingy lagi keanya, huhh =_=

Yah, pokoknya, setelah berbagai pertimbangan dan olah otak bersama alter-ego gw tercinta, River, gw memutuskan buat menghidupkan blog ini lagi. Well, at least rencana gw gitu. Kalo besok gw ketabrak truk Choki-Choki, berarti rencana gw ini tidak akan terlaksana.

Yang jelas gw berusaha idup dah.

Apa lagi yang gw mau omongin? Keanya gak ada. Udah deh gw off dulu. Caiyoo minna =w=/

Selasa, 11 Agustus 2009

Idiotic

[Gila...gw baru inget pernah nulis puisi ini. Puisi ini gw tulis...sebelum gw baikan sama Kaitoicha. Dan lagi emo. Yeah, kombinasi yang bagus.]

Listening to own heartbeat on Saturday night
A little child shivering under her blanket
Whispering her true heart slowly
An incredibly brittle heart, only she know with what it filled

She would be me, I’ll never realize
I couldn’t see myself on her face
Is she for real? She is me.
I bet that person wouldn’t care for a bit

Oh, you the one who planning something to murder me
Did you say to everybody that I leave you?
If yes, please don’t ever do that again
I never hear lies from your mouth before this

When you laugh at me, maybe, in your own house
Without something is knocking inside your heart
I’m sick of death on my bed
Tears have coincide my lungs, all for you

I enfolded with your poisonous sentences several months ago
To said something about you won’t sad if I die
I can’t do anything except hide my own feeling
Tell the truth that lies without expressions

I always think you’ll be melt under my hand
And now I realize how dumb that is
How can I ever think about that?
Sorry for being annoying all of time…

Thus memories about you,
Are now echoing in my head

When I hear your laughter far, far away without me
I know that I am all alone
A single voice above the noise
And like a common thread but I know it happens without me

Loving you always will never be tougher
You must be expect how idiot I am
To loving someone that dropped me out harshly
And somebody is whispering me those facts…

I’m afraid I wouldn’t be able to see you again
I want to protect you, to prove me right
And the sounds are whispered
I’ll never be able to do that, and I’ll always being an idiot

And I know it’s all true
Just waiting for someone to pick me up from this wicked world
And hope you’ll realize my feeling after my death
Thus act will conclude my suicide

Sasha, 2009

[*ngesot kabur*]

Kamis, 16 Juli 2009

Post Ke-100, Demo Ekskul, Dan Hari Kebangkitan!

Hallo every miauw. *ketularan Azumanga Daioh*

Ah well, seperti beberapa post yang lalu, gw menyampaikan tiga topik terpanas hari ini *ngerasa kea host acara gosip* dan akan gw mulai dari yang kurang penting dulu.

Pertama, ini adalah post di blog ini untuk yang keseratus. Wew, ternyata cukup lama juga yah gw nulis di blog ini. Mulai dari sedih, seneng, marah, sayang, benci, cinta, gw tumpahin semuanya tumplek blek disini. Tadinya rencana gw di post yang keseratus ini gw mau ngeganti template (ato malah ganti blog aja sekalian) tapi ternyata ada berbagai kendala--mulai dari gw yang males OL sampe "urusan" di sekolah yang mesti diselesein. Yah, improvenya kapan-kapan aja ya kalo gitu OTL

Kedua, demo ekskul. Besok ada demo ekskul buat anak kelas 7 di skul gw, dan tentu aja gw sebagai ketua jurnal yang baik hati dan tidak sombong *disepak Kak Ifu* ikut dalam pembuatan pertunjukan nanti. Gw sekarang harusnya bikin presentasi, tapi malah OL dengan tidak beradab *ditabokin anak jurnal* dan yeah, gw cinta abis-abisan sama pertunjukan jurnal nanti. Kita punya 4 MC yang dimajuin nanti. Lano, Tika, Maitsa, sama Dika. Yep, Lano cowok sendiri. Maitsa sama Dika gila abis, sumpah gaek. Gw lagi donlot Black Or White-nya MJ neh, buat kegilaan mereka besok. Mereka bakal kocak banget jadi MC, kami semua yang nonton aja nggelepak-nggelepak kehabisan nafas karena kebanyakan ketawa tadi pas gladi. Gw akan segera ngerjain presentasi setelah nulis berita ketiga.

Berita ketiga, HEADLINE!!! Apa yang sudah dinantikan oleh seluruh warga skul gw akhirnya terwujud juga. Yakk, GW SAMA LUKA BAEKAN. Hahahahah, jangan tanya gw gimana bisa. Malu-maluin. Yang jelas, gw udah melupakan Anti-MASTERplan sama sekali, dan Luka (gw harap) juga melupakan MASTERplan. Alesan, yeah? Gw masih berusaha mengorek keterangan darinya. Ini anak sumpah ngehindar terus kalo ditanyain tentang alesan. *sepak Luka*

Susah dipercaya? Gw tahu. Gw juga gak percaya, sampai sekarang masih nggak percaya. Apa yang terjadi andaikan sewaktu itu gw nggak melangkahkan kaki, gw nggak pernah mau membayangkan. Walaupun begitu gw tahu ini nyata, kendatipun sulit dipercaya, ini nyata. Gw akhirnya bisa kembali menggunakan nama Kaitoicha di blog ini lagi.

Kaitoicha ada dalam imajinasi gw lagi, tapi dia nyata, dia tidak jauh, sedekat nyawa. Gw tetep nggak bisa percaya itu suaranya yang terngiang di telinga gw, itu jemarinya yang bertaut dengan jemari gw, itu denyut nadinya yang mendetak di tangan gw, itu mata hitamnya yang gw bisa tatap akhirnya. Gw ngerasa sebagai individu lagi, bukan separuh nyawa yang melayang-layang kosong selama ini. Dan, gw tahu, ini memang hal yang pantas ditunggu dalam perjuangan dan deraan penderitaan selama berbulan-bulan.

Now my hearts in two...but I can find the other half.

Sabtu, 04 Juli 2009

Iguana, PSP, And The Last Thing I've To Do

Halo, guys, long time no see =w= *ditabok*

Okeh, ada banyak yang mesti ditulis--meskipun gw gak tahu bakalan nulis panjang ato nggak, lagi ngebet maen game online neh. Yah, yang pertama-tama, Iguana.

Gw gak tahu dia itu otaknya ditaroh dimana, tapi Iguana ternyata udah bikin FB dan dia menggunakannya untuk ngedeketin temen-temen skul gw. Termasuk orang yang bukan temen gw sih, si Luka. Gw gak tahu isi pikirannya apa. Dan dia juga ngelarang gw nanya-nanya soal apa yang dia obrolin. Sabuduk. Dia bilang dia pengen mendekat secara pribadi sama Luka--bukan buat mempengaruhi Luka, tapi buat mengetahui seperti apa orang yang udah bikin hancur seorang Sasha Kieselstein. Buset.

Kedua, PSP. Gak penting banget sih. Gw lagi addict sama PSP, dan sekarang udah namatin--entah untuk yang ke berapa kali--LocoRoco yang seru dan top abis =w= *dibejek* Dan sekarang lagi nyari LocoRoco 2. Gw pengen tahu tentang LocoRoco 3, kalo ada yang tahu kasih tahu gw ya? :D

Ketiga, yang lebih serius, MASTERplan.

Berapa post udah gw tulis dan gw gak nyinggung apa-apa lagi tentang MASTERplan seakan rencana busuk itu nggak pernah diciptakan. Gw sedang mencoba menganggap begitu. Akhir-akhir ini gw berusaha keras menghapus seluruh "mata" yang gw pasang dimana-mana, membatalkan semua perintah yang pernah diinput, dan yang paling susah melupakan seakan gw gak kenal sama yang namanya Luka. Berhasil sih, akhir-akhir ini gw berhasil membenci dia dengan penuh cinta *oposeh* yah susah deh ngejelasinnya, yang jelas sekarang nggak ada masalah lagi, deh. Semuanya udah fix. MASTERplan menang, Anti-MASTERplan dibatalkan dan dipadamkan permanen, spinner's end.

Kemarin malam, gw sendirian di kamar yang digelapkan, menatap nyalang ke arah langit-langit kamar.

Sudah selesai. Semuanya sudah selesai. Tak ada yang perlu diatur lagi. Gw sudah memberikan perintah kepada MASTERspy untuk berhenti mengawasi Luka dan mencabut "device penyadap", segalanya runtuh di depan mata gw. Kegagalan terbesar dalam sejarah AR, karena gw menyerah. Memalukan, gw tahu, tapi gw nggak akan sanggup menghadapi situasi dimana gw harus jadi tsundere seumur hidup. Berat. Gw memilih menyerahkan kemenangan pada tangan Luka dan turun dari podium, membiarkan anak-anak lain yang mengawasi perdebatan kami dari bawah panggung melihat apa yang telah Luka lakukan pada gw. Menghancurkan gw dari dalam, tinggal sisi kopong tak bersisa yang terbuat dari lilin, kosong dan tak bernyawa, walau kelihatan setegar marmer.

Tapi paling tidak gw menutup semuanya dengan elegan. Semua kenangan sudah terhapus dan gw mendapati diri sendiri mampu mengikuti apa yang diperintahkan MASTERplan. Daripada ribut-ribut dan membangun penentang, mending ngikut rencana induknya, toh? Gw gak maafin dia dan nggak akan pernah maafin dia, dan itu adalah hal yang diinginkan MASTERplan. Gw akhirnya bisa menerima--gw bisa melupakan.

Gw memejamkan mata.

Jaa ne.

Selasa, 30 Juni 2009

Fujoshi Meets...

Kemaren, gw ketemuan sama Dita, authornya Ryoya dari sini.

Yah, kita berdua udah lama ngerencanain pengen ketemu gak jadi-jadi. Tadinya seh mao maen ke rumah aja, tapi kalo dipikir lagi kok males, ya. Akhirnya, gw ngusul buat nonton sama-sama aja di Cibubur Junction kalo ada film bagus. Yep, Dita setuju, tapi kita gak tahu mesti nonton apaan. Pengen nonton Garuda Di Dadaku, ehh gw udah nonton duluan sama tiga temen gw (tiga-tiganya cowok, dua anak kelas lima, satu anak kelas enam--YEAH, I KNOW, GW KEA PEDOFIL) pas di hari pertama GDD muter di CJ--tanggal 18. Jadi yaa, gak mungkin nonton GDD. Akhirnya gw bilang Star Trek aja dan Dita mengiyakan.

Ternyata...
Star Trek dicopot dari jadwal main CJ.

Gw gak tahu itu yang ngelola otaknya ketinggalan dimana, tapi yang jelas gw udah ngeliat dengan mata kepala sendiri kalo Star Trek udah masuk daftar Coming Soon di CJ. Tapi pas gw kesana lagi, udah ilang. Gak berbekas. Busuk.

Gw langsung SMS Dita, dan kita berdua menghabiskan beberapa SMS dengan maki-maki 21-nya CJ sebelum akhirnya kita ngomongin lagi mau nonton apa. Usul gw Transformers, tapi ditolak sama dia--kalo gak salah sih karena dia nggak nonton yang pertamanya. Yo wes, dengan pasrah gw ngomong buat nungguin Harpot maen aja.

Tapi sekitar hari Jumat kemaren Dita ngehubungin gw lagi dan dia bilang mending nonton Transformers aja, dia mau. Gw ngelonjak girang dan segera ambil hari kosong. Hari Senin. Dia pun setuju dan kita bikin janji.

Hari Senen gw nyampe duluan. Karena masih jam 10, 21 belom buka--tapi kita emang harus ngantri di depan gerbangnya, supaya dapet tiket. Makanya gw jadwalin ketemuan jam 10 biar kita dapet antrian di depan. Gw telpon Dita lagi, dia lagi naek ke atas.

"Ciri-ciri kamu apa?" dia nanya.

Gw menatap diri sendiri. "Baju item, celana bahan, sama jaket diiket di pinggang. Gampang kok nyarinya."

Gw sengaja pake baju yang imagenya cute daripada keren. This new haircut make me looks cute, and I should follow the style, heheheh.

Akhirnya gw nunggu dia sambil ngebalesin SMS gw sama Meiru (yang notabene isinya yaoi mulu =3= *gak penting*) dan dia dateng, ngagetin gw. Yup, dia mirip temen gw. Hwahahaha. Akhirnya kita naek ke atas dan ngantri sejam di depan 21 sambil ngobrolin RP--berusaha pake bahasa yang nggak terlalu eksplisit karena, you know that lahh, itu kan lagi di tengah kerumunan orang. Jam 11 gerbang dibuka baru setengah dan gw langsung menyelusup masuk bersama anak-anak yang tubuhnya kecil supaya bisa nemplok di depan loket. Beberapa saat kemudian--ketika gerbang akhirnya terbuka secara penuh--Dita nyusul di samping gw. Kita ngobrolin berbagai hal lagi, terus mesen tiket (OMG akhirnya dapet di A...gw udah tiga kali nyambangin 21 selalu keabisan tiket terus. ARGH DAMN HOLY BLUE HORSE IN A BIKINI D<) terus buat ngabisin waktu turun ke bawah...ngalor ngidul...ketemu Dhiya dan Tia (Tia kaget pas tahu gw kenalan sama Dita dari RP...kan isinya fujoshi semua :D) terus naek ke atas lagi dan duduk lagi, ngobrolin forum-forum RP laen selaen SG. Terus Studio 2 dibuka, kita masuk deh.

Gw salut sama filmnya, two thumbs up d=w=b cuma satu kekurangannya gan...LEBAY. Ada beberapa scene yang nggak penting dan mestinya nggak usah dimasukkin. Kea pas nyokapnya Sam mabuk ganja, kan itu nggak stick to the plot gitu, buat apa dibikin, ngabisin waktu syuting aja. And rite, the wars are making non-sense sometimes.

Selesai nonton kita turun ke bawah buat makan di A&W--terus ketemu sama serombongan anak kelas 9. Yah yang pertama gw temukan adalah Kak Reta--sama Asti, yang ini gw rada heran kenapa. Kami basa-basi...Kak Reta ngobrol sama Dita soal SMA (Dita anak 39 soalnya) sementara gw ngobrol sama Asti. Tukar guling.

Awal obrolannya adalah:

Kak Reta: Lho...Sasha...
Gw: *noleh* Kak Reta?! Asti?!
Asti: Wahh...sama siapa?
Gw: *tunjuk Dita* temen, nih.
Kak Reta: *senyum ke Dita* oh, temen...kelas berapa?
Dita: Kelas 3 SMA...di galan...
Kak Reta: *takjub* Wah...di galan! *langsung ngobrol tentang sistem SMA*
Gw dan Asti: *ngobrol random, gw gak inget ngobrol paan, gak ada yang penting keanya*
Kak Reta: *selese ngobrol tentang galan* Oh, gitu...BTW ini kalian temen apa? Temen rumah?
Gw: *mandang Dita nyengir* heheh, internet...
Kak Reta dan Asti: HAH?! Internet?
Dita: *nyengir juga* iya, ini pertama kalinya ketemuan...
Kak Reta dan Asti: *nganga*

Yah gitu dehh.
Kita berdua akhirnya makan (dan ketemu anak-anak kelas 9 laen...Kak Alfi, Kak Ilham, Kak Pandika, and the others) terus setelah makan, kita akhirnya ngobrol. Dan kita semua tahu apa yang dilakukan Fujoshi kalau saling bertemu...NGOBROLIN YAOI SAMPE MAMPUS. Kita ngakak-ngakak aja gitu ngerancang situasi yaoi yang seru (di tempat parkir, di bawah mobil--ET DA BUJUG, NGOTORIN MOBIL ORANG AJA) dan itu kita lanjut ngobrol di kursi depan Fish Spa di lante 1 (lante 1 bukan sih? Lupa gw) sama di foodcourt (mesen Teh Botol doang...yah si Dita beli cheesecake di Bread Talk seh) sampe akhirnya gw dijemput, dan kami berdua pisah jalan--dia pulang naek angkot.

Petualangan tidak berakhir sampai disitu.

Di tengah jalan, motor gw ditilang polisi. Mana Bang Endang (yang njemput gw) itu dengan begonya lupa bawa dompet--alhasil SIM sama STNK gak kebawa dong. Kami sempet ketahan di pos polisi karena si polisinya nggak mau dibujuk dengan cara apapun oleh Bang Endang--jadi akhirnya gw dikirim ke rumah pake ojek.

Kacau. Nggak tahu deh itu Bang Endang lolosnya gimana. Tapi kalo gak salah sih dia ada temen di kepolisian.

Nyampe rumah, gw langsung ngadu sama Dita. Hahahahaha. Kocak asli. Dan petualangan gw berakhir di situ. Kali-kali nonton sama dia lagi ahh =w=bbbbb

Jumat, 12 Juni 2009

HELL YEAH! GO TO HELL YOU DAMN EXAM!

HAHAHAHAHA YESSSHHHH UJIAN SELESE!

Ah well, banyak hal yang terjadi saat gw ujian. Pertama: matematika gw dapet jelek banget, 83, rank ke-6, geblek. Kedua: TIK gw bagus! THANKS GOD! Ketiga: gw akhirnya bisa gambar pake atari--walo baru bisa tampak depan doang sih =3= yah tapi sejak pake atari, rambut dari orang yang gw gambar makin bagus nyuu~ gw mo beli bukunya Tatsu Maki ahh, belajar atari lagi. Keempat: GW DITOLAK. HAHAHAHA. Jangan tanya gw ditolak sama sapa. Pokoknya jangan.

Sedih juga sih,
ujian gw makin lama makin turun nih.

Masa yang dapet 9 cuma 2? Udah gitu bukan pelajaran yang gw targetin lagi: matematika sama IPA--iya sih, IPA nilainya belom diumumin. Gw malah dapet nilai 9 di Al-Quran sama Bahasa Arab.

Tapi ya sudahlah.
Yang berlalu biarlah berlalu.
*brb kabur ayam*

Oh yeah, btw, gw lagi menanti banyak film nih. Garuda Di Dadaku, Harry Potter (ohmygay gw pengen nontoooonnnn DDDDDX), Star Trek juga keanya bagus. Yah film antariksa apa sih yang seorang Sasha gak suka? Udah gitu, Star Trek itu film yang pengen gw tonton dari dulu. Wew, sekarang malah dibikin versi barunya. Seru deh seru deh.

Lalalala~
Butuh pasokan yaoi nih setelah stres ujian seminggu~ jaa ne~

Kamis, 04 Juni 2009

Full Action in 8D--Me vs Luka vs 8D Students

Iyeh, emang besok lusa ujian. Gw nyolong OL aja. Keanya post terakhir gw sebelom tanggal 13 nih.

Well, kemaren terjadi sebuah pertarungan seru banget di 8D, kelasnya Luka+Riddle+Fox. Tiga kakak-beradik brengsek itu, yeah. Pokoknya, gw lagi ada di depan kelas 8D ketika Rinal (kembarannya Master) nyeret gw masuk ke 8D--buat biasa deh, yang selalu anak-anak lakukan, berusaha ngedamaikan gw sama Luka. Bedanya, kalo yang biasa anak-anak nggak mampu narik gw (mereka nggak kuat nahan gw yang ngeberontak sekuat tenaga) Rinal mampu. Mungkin itu karena Rinal badannya kea kebo.

Yah, pokoknya,
gw berhasil diboyong masuk.

Gw ditarik menuju mejanya Luka dengan ngeberontak tanpa hasil. Ketika kami sudah mendekat, barulah Luka menyadari niat Rinal dan--syukurlah dia masih punya akal sehat--bergegas lari. Sayang kurang cepat. Rinal berseru nyaring, "Tangkap!" dan Luka berhasil diamankan oleh Opal.

Luka dibawa lagi ke arah gw dan Rinal. Ketika Rinal berusaha buat mendekatkan kami, gw berhasil melepaskan diri dengan cerdik dan lari ke pintu. Sialnya, kerjasama anak 8D yang ada saat itu tak buruk. Opal dan Yopie melesat ke pintu dan membloknya, membuat gw nggak bisa menerobos keluar.

Terjebak, gw berbalik dan melotot memandangi Luka yang sedang meronta, digiring oleh Rinal. Berikutnya terjadi percakapan yang, setelah gw pikir, rada konyol.

Gw: *meronta* Lepas! Gw mau pergi!
Luka: *meronta juga* Aah! Lepasin gw!
Rinal: Ayo dong! *megangin kita berdua* Lw berdua tuh udah berantem 5 bulan! Lama banget kan!
Luka: 4 bulan, tahu!
Lano: Masa? Seinget gw 3 bulan...
Gw: Salah, bego! 6 bulan! Dari Desember!

Oke,
kami malah jadi berantem soal durasi.
Padahal kan emang bener 6 bulan <==masih ngotot

Dan akhirnya, setelah berkali-kali gw kabur mencoba melepaskan diri (dan ditahan lagi sama seluruh anak di kelas yang saat itu berjumlah sekitar sepuluh orang lebih =3=) gw berhasil kabur, diiringi teriakan Rinal. "Aah! Dia kabur!!!!"

Huh.
Gw kapok deh deket-deket Rinal lagi.

Senin, 01 Juni 2009

Lembur Munyuu~

Jiahh. JIAHH.

Padahal yang namanya ekskul buat anak kelas 8 itu udah berakhir Jumat kemaren.

Tapi karena ekskul gw jurnal (yang notabene redaksinya buletin skul) gw dan beberapa orang yang tim inti masih mesti kerja keras buat ngisi buletin. THAT'S MEAN...LEMBUR. Yeah baby, I'm getting used to it. Mana minggu depan ujian lagi.

*terdengar erangan Sasha dari kejauhan*

Dan walo ujian tinggal sejengkal jaraknya...gw masih gambar aja kalo di skul. MWAHAHA. Tadi alih-alih merhatiin Bahasa Arab, gw malah gambar cowok bishi yang lagi pegang digimon. Dah gitu digimonnya abnormal gitu lagi. Hihh. Separo sangar separo imut. Paling nggak akhirnya rambut di gambar gw mulai nggak kaku lagi. Tapi tangannya masih kaku TTATT nyuu Pedo-san ajarin gambaarrrr *ditabok laptop*

Mana gw mesti ngapalin Knocks You Down-nya Keri Hilson lagi buat ujian SenBud besok. Udah apal sih. Tapi gw takut miss nada aja. BTW tentang SenBud, ada kejadian--nggak terlalu lucu sih--yang gw alamin beberapa hari lalu.

Waktu itu gw lagi ngelongok ke PSB dan ternyata kelompoknya Luka lagi latian SenBud. Luka pegang keyboard. Yah gw sih kagak peduli-peduli amat, tapi gw ada urusan sama Rinal (kembarannya Master) yang lagi ada di sebelah kelompok Luka. So gw masuk dan ngomong bentar sama Rinal (masalahnya karena temennya Rinal naksir sama gambar Rhomedal gw dan nggak mau dia balikin), terus melenggang keluar lagi. Di luar rupanya ada Spy2.

"Hei Sa," sapanya. "Luka yang lagi maen keyboard, ya? Kok lw berani masuk sana?"

Gw mikir bentar sebelum melontarkan jawaban paling baik yang gw punya.

"Luka maen keyboard?"

Spy2 ngangguk. "Iya."

"Gw gak ngeliat siapa-siapa tuh," kata gw nggak acuh. "Keyboardnya main sendiri. Gw gak liat ada orang yang mainin. Lagian, siapa tuh Luka? Gak kenal gw."

Meninggalkan Spy2 yang tergagap, gw melenggok pergi, ketawa geli. I loved to being sado. Seriously.

Tadi juga, akhirnya setelah berabad-abad gw gak ngomong sama Riddle, gw ngomong lagi sama dia. Astaga, dia berubah banget. Gw gak ngerasa aura dan aroma yang sama seperti pas dulu kelas 7 dan kelas 8 awal.

Lokasi di TU, gw lagi bertopang dagu di sofa nungguin telepon yang lagi dipake. Di sofa seberang ada Irfan. Riddle masuk dan ngobrol (baca: joget gak karuan) sama Irfan. Gw mandangin Riddle dengan pandangan dingin.

Riddle menyadari pandangan gw dan noleh. Gw perlahan buang muka.

"...huh. Kucing buluk."

Kata-kata yang persis. Gw melompat berdiri.

"Stop, stop," katanya sambil mundur perlahan. "Kita kan udah lama nggak kejar-kejaran."

"Makanya, gw gatel ngejer lw lagi!" seru gw ngamuk.

"Jangan, dong! Itu jadi sejarah aja."

"Kalo mau itu jadi 'sejarah', gak usah cari masalah sama gw deh!"

Finally, kita berantem mulut.

Tapi honest, dia banyak berubah. Dulu gw ngerasa akrab sama dia, gw bener-bener ngerasa hubungan kakak-adik yang kuat, gw ngerasa sejajar. Sekarang? Gw ngerasa dia jauh, dia bukan orang yang gw kenal, dia orang asing. Gw ngerasa lebih rendah. Gw ngeliat dia udah terlalu tinggi dan jauh untuk gw raih.

Dia emang bukan Riddle-niisan lagi. Dia Riddle si beringas 8D yang tak bisa diraih.

Dia bukan Riddle gw.

Sabtu, 09 Mei 2009

Sorry...Lama Banget Gw Gak Nyambangin Blog!

Hahaha.

HAHAHAHA. *ditabok*

Wadooh, sori banget gw udah bermilenia-milenia *lebay* gak nyambangin site ini. Buset, ada bangkai orangutan di balik music player di bawah, lho. *ngaco* Haha, gw keasikan maen RP. Blog gw lumutaann.

Many things happen--still, gw belom-en-kayaknya-nggak-akan-pernah baekan sama Luka. Life goes on, gw baek-baek aja sejauh ini.

Ah.
Iguana cemburu gw ke rumah Danch.

Haha sumpah itu cowok kocak banget. Gw kan ke rumah cewek, bukan ke rumah cowok. Nginep boleh dong. Masa gak boleh =A=

Gw: Gu. Gw nginep rumah Danch boleh kan?
Igu: HAHH? GAK! GAK BOLEH!
Gw: Ehh...napa...? *puppy eyes*
Igu: Soalnya gw tahu...LW BAKALAN NGERAEP DIA. IYA KAN???!!!
Gw: Hehe...hehe... *ketawa aneh* jadi lw cemburu toh Gu?
Igu: Kagak! Gw kasian sama Danch!

Hahaha. Masih gak mau ngaku.
Bego, bego.

Walo gitu tetep aja sih gw ngelanggar larangan dia dan nginep di rumah Danch.
Sampe di rumah, gw diomelin di telepon.

Oh well.

Yah, dia gak salah sih. Kecurigannya berdasar--gw bener-bener ngeraep Danch. Sempet mau gw apa-apain nyokapnya dateng *OTL*

HAHAHAHAHA.

Sumpah gw asli dimarahin sama Iguana.

Yah, tapi di akhir petualangan-gw-di-rumah-Danch sih gak terlalu bagus, gw mesti mempertahankan senyum-yandere gw karena suatu hal ^^; tapi lumayan lah, karena gw gak begitu jago jadi yandere dan akhirnya gw bisa juga mempertahankan senyum yandere gw tanpa kecurigaan berarti. Itu berarti kemampuan gw meningkat.

Dan, selama di mobil, gw ngobrol berdua sama nyokapnya Danch (alesan kenapa Danch gak ikut itu pribadi ya ^^;). Nyokapnya Danch, beda sama nyokap gw, ternyata gak terlalu support sama anak beliau buat suka sama Japan thingy. Kalo nyokap gw kan support tuh, malah gw dibeliin apa aja. Kalo Danch tuh nggak. Nyokapnya gak suka Danch ikut cosplay. Selama di mobil, gw berusaha dengn halus melunakkan pendapat beliau supaya Danch gak tertekan terus. Lama-lama kalo nyokapnya Danch gak support gini, mereka berdua bisa bentrok, dan ada kemungkinan Danch gak dibolehin cosplay lagi, bahkan gak boleh mendekat sama yang namanya Japan things. Padahal gw tahu gimana berartinya itu semua di mata Danch. Jadi, gw mencoba untuk berbicara dengan halus, melunakkan pendapat beliau. Gw gak tahu bagaimana keputusan final nyokapnya Danch, tapi gw harap beliau bisa lebih membuka hati beliau. Karena anak beliau bukan anak yang nggak serius dalam menjalankan suatu hal.

Gw tahu kok.
Gw tahu persis.

Yah, pokoknya setelah itu sih gak ada hal lain yang menarik ^^; kecuali kejadian kemaren pas jurnal kali ya...gw masih merenung dalam soal itu.

Well,
Berhubung gw lagi keranjingan gambar, gw ngebawa alat yang gw butuhin untuk itu ketika gw jurnal di lab bahasa di lantai 3.

Pokoknya sih pas di tengah pelajaran-bikin-buletin, Nadhira en Syanaz (yang notabene ada di kanan-kiri gw) minjem folder gambar gw buat diliat-liat. Kita bertiga ngomongin gambar, mulai dari Nadhira yang ngeluh soal bokapnya yang cuma bisa gambar orang lidi sampe Syanaz yang seneng sama gambar Jin Kuga yang gw bikin. Lalu terjadilah percakapan diantara kita bertiga.

Nadhira: Eh, tahu gak. Well, bukannya karena gw emang deket sama lw ya, Sa *mandang gw* tapi kalo gw rasa, gambar Sasha lebih bagus dari gambar Luka, lho.
Gw: Hah?
Syanaz: Gw juga beranggepan gitu. Wajah gambar-gambar Luka tuh plain, sama semua. Yang ngebedain cuma baju ato rambut, itupun rambut juga banyak yang sama. Sementara gambarnya Sasha tuh ada karakternya.
Gw: *senyum bersalah* Mungkin itu karena tokoh Luka banyak. Tokoh gw kan dikit.
Nadhira: Nggak ngaruh kali Sa. Tokoh lw, sebanyak apapun, kalo ada karakternya, bakalan bagus. Tokoh lw berkarakter.
Syanaz: *ngangguk*
Gw: *diem*

Selama ini gw mengakui kalo gambar Luka emang lebih bagus dari gw--gw akui itu. Gw gak muna. Gw tahu kalo dia expert. Dan gw gak punya masalah dengan itu--dia bisa gambar, gambarnya bagus, ya go ahead. Gambar aja. Gw gak merasa gw bisa menyaingi Luka, gw gak merasa bahwa gw ngikutin Luka. Gw turunan dari para penggambar yang sukses--bokap gw, kakek gw, buyut gw, terus ke atas, semuanya bisa gambar. Jadi gw menanggung beban karena gw harus bisa gambar. Malah kalo boleh jujur, gambar gw ningkat pesat sejak gw pisah dari Luka. Mungkin karena faktor sejak gw jauh dari Luka, gw makin deket sama Danch. Hmm.

Yah, pokoknya, gw udah melepas harapan supaya gambar gw dipuji "bagus" oleh orang sekitar--gw tahu ada Luka, dan gw gak mungkin nandingin dia, gw udah berdamai dengan kenyataan itu sejak lama. Gw sama sekali gak ngira gw bakal terjebak dalam percakapan macem ini. Rasanya aneh aja dibandingkan sama orang yang udah belajar gambar bertahun-tahun. Gw baru belajar gambar lima bulan lalu. Nggak level, kan?

Ah udahlah, hal berat kok dipikirin.
Maen RP ahh.

Sabtu, 21 Maret 2009

Ancaman

Hai hai. Sori banget nih, gw lama nggak ngapdet blog—internet di rumah tagihannya tinggi banget (gw kebanyakan maen RP kayaknya) dan gw mesti ke warnet buat ngenet. Yeah, sekarang gw lagi di warnet. Hmm, enak kali ya kalo punya BlackBerry, bisa ngenet terus. *ngiler*

Allright then, first I wanna say, jiwa Luka kayaknya mulai keganggu deh. Ada sekitar tiga informan yang ngedatengin gw dan bilang kalo dia mau minta maaf sama gw. Hmm. Gila. Bener-bener tak berakal sehat. Jadi, setelah empat bulan menelantarkan abdi setianya, alter ego-nya, membuang gw secara tidak berperasaan dan sama sekali tidak manusiawi, dia dengan santainya mau kembali, gitu? Apakah semua post di blog ini tak berhasil memberikan pelajaran kepada otaknya yang bebal itu? Bukankah seharusnya selalu ada yang namanya hubungan timbal balik? Apakah dia benar-benar akan memaksa gw untuk menjalankan rencana inti Anti-MASTERplan?

Well, yang jelas gak semudah itu, ngedatengin gw, minta maaf, dan semuanya kembali seperti semula. Ohh, tentu tidak. Ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Yang jelas, gw akan sedikit menurunkan pertahanan—tidak sampai pada taraf bodoh—dan menunda jalannya rencana inti Anti-MASTERplan yang seharusnya mau gw laksanakan hari Senin itu, dan menunggu Luka bertindak. Clearly, pembicaraan itu—andaikan Luka akhirnya punya cukup keberanian untuk bicara sama gw—nggak bakalan gw permudah, dan tentu saja gw akan mencoba melakukan berbagai manuver-manuver sulit untuk melihat sejauh apa kemampuan Luka berbicara sebelum akhirnya memutuskan apakah gw akan ngasih kesempatan kedua ke Luka ato nggak.

Nah, kalo dia nggak berbuat apa-apa, gw akan tertawa keras-keras dan meneriakkan kata-kata sumpah serapah yang cukup sebelum mengirimkan spy-spy andalan gw untuk melaksanakan rencana inti Anti-MASTERplan. Asal tahu saja, gw menganggap semua hal ini sangat serius—nggak kayak Luka—dan gw bisa memutuskan apa yang akan gw lakukan. Ini perang, dan gw biasanya nggak ngebawa belas kasih gw ke dalam perang, bukan? Gw nggak peduli posisinya dia sebelum MASTERplan berjalan—yang tadinya adalah orang yang berada di bawah naungan perlindungan posesif gw, yang tadinya adalah orang yang paling gw percaya di seluruh dunia selain keluarga gw, yang tadinya adalah...majikan...gw, sekarang adalah orang paling berbahaya yang pernah ada di daftar AR dan akan menjadi semua sasaran serangan-serangan gw dalam beberapa tahun berikut.

Kita lihat nanti, apakah Luka bisa menyentuh hati gw atau nggak. Atau dia malah membuat gw jauh lebih murka dari sebelumnya dan bertindak brutal dalam pelaksanaan eksekusinya—kita lihat nanti. Biarkan waktu yang memutuskan…

Sudah kucoba untuk selalu
Mengerti apa yang kau mau
Sudah kucoba untuk selalu
Ikuti semua yang kau inginkan

Bukan, bukan kusembunyi
Namun hargailah perasaanku ini
Bukan, bukan ku berlari
Namun lihat-lihatlah aku disini

Hari ini, hari esok,
Bahkan mungkin sampai kau mati
Kau takkan pernah bisa berubah
Kuyakin kau takkan pernah berubah...

(Bukan Aku, Ungu)

Kamis, 12 Maret 2009

Kouhai-Kouhai Gw Yang Tercinta, ChessPlan, Dan Bule Arab

Yeah, gw tahu, jangan terus-menerus neror gw gitu deh.
Gw tahu kok kalo post gw menjadi sangat tidak rasional akhir-akhir ini.

Well, sori dori mori tralala trilili oke baby *inget kata-katanya Rival dua tahun lalu, lol* tapi seperti biasa, gw masih fokus pada pekerjaan gw sebagai pengarang novel BCE (boong lu sa *disambit Shota dari belakang*). Oke, gw boong. Gw masih fokus sama RP, dan rada-rada gak seimbang gitu deh. Untuk membayar kekhilafan gw karena menelantarkan banyak sekali hal akhir-akhir ini, kemaren gw ngapdet gambar lagi di DeviantArt, ngelanjutin BCE setelah berkarat di kompi, dan ngetik post ini. Yah banyak banget sih sebenernya yang pengen gw ceritain.

Perkembangan MASTERplan jalan di tempat, nggak ada perkembangan berarti kecuali gw ditangkep sama Bu Nur dan dipaksa bernego sama Luka, sebelum akhirnya gw meloloskan diri secara tidak cerdik (kabur sama tukang ojek gw) dan membiarkan Luka ngobrol sama Asti, yang kelihatannya udah mempengaruhi Asti begitu rupa sehingga Asti yakin kalo Luka sebenernya mau baikan sama gw tapi dia takut karena menganggap gw nggak akan menerima maafnya. Huh, gw nggak membutuhkan perkataan kelas kroco seperti itu—hal itu semakin membuktikan kepada gw kalo Luka emang selalu bisa mempengaruhi orang yang dia inginkan, dan harus gw akui dia mengambil orang yang cukup berat untuk gw lawan, karena Asti adalah sepupu dari salah satu sahabat terbaik gw di seluruh dunia, dan itu berarti gw nggak bisa ambil resiko mengabaikan dia.

Juga Asti pun jago berdebat, dan itu menyusahkan gw juga karena dia ditemani oleh sepasukan anggota ChessPlan di belakangnya. Mereka kelihatannya yakin betul kalo Luka sebenernya mau baikan sama gw tapi takut ngomong—kalo kata Chanis sih gara-gara Luka nggak pernah melihat gw sendirian sehingga nggak bisa ngajak ngomong gw. Bego, kalo Amel nggak ada di samping gw (dan hal ini terjadi cukup sering, berhubung gw sering berada di lantai kelas 8, kadang nggak ke kantin sama sekali, dan bahkan setelah makan pun gw berada di luar kelas cukup lama), gw kan selalu sendirian? Dari dulu kalo gw punya temen di samping gw, selalu Luka atau Tia—dan Luka nggak mungkin ada di samping gw, tentu aja, sementara Tia pasti selalu ada di samping Luka, bikin hati panas rasanya. Afyra? Dia kan punya geng. Jadi, kesimpulannya, gw selalu sendirian. Terus dia mau nungguin apaan? Kan udah gw bilang, Luka itu cuma cari-cari alesan doang—gw yakin bahkan ketika anggota ChessPlan, misalnya, sudah menyodorkan gw ke depan hidungnya, dia bicara sepatah kata pun tidak. Dia emang nggak ada niat baikan sama gw kayak yang dibilang Asti dkk—dia cuma cari simpati.

Oke, perkembangan tentang itu sampai disini, mungkin besok ChessPlan udah bertindak gila lagi, liat aja nanti. Omong-omong, Luka kelihatannya udah menutup permanen blognya—dia berpindah minat ke FB, kayaknya, sama seperti gw yang berpindah minat ke RP, dan kami emang udah nggak ada titik temunya lagi. Jadi, alur komunikasi kami yang tadinya lewat blog—sering bales-balesan antara post satu dengan yang lainnya—kini terhenti sama sekali. Yah, baguslah, dengan begitu kemungkinan komunikasi kami semakin kecil saja. Makin cepat makin baik.

Berikutnya, tadi kelas gw kedatengan seseorang bernama Rahim, entahlah, dia adalah orang Arab (kayaknya sih) yang cuma bisa sedikit Bahasa Indonesia, dan berbicara Bahasa Inggris sepanjang pelajaran. Well, secara umum gw suka pidatonya, apalagi tentang alesan kenapa cowok lebih sering sakit ginjal dibanding cewek, gw ketawa geli sepanjang topik itu, serius. Beliau cukup kocak juga, dan gw menikmati pidatonya. Oke lanjut.

Pulang-pulang gw menghabiskan waktu bersama kouhai-kouhai gw. Itu adalah sore paling jenaka yang pernah gw lewatkan—disana ada Amel, Shahnazh, Hafizh, Arya, dan Chandra—walo yang terakhir disebut ini baru menggabungkan diri disaat terakhir. Amel, tentu aja, selalu ada disamping gw. Shahnazh, sifatnya nyaris sama kayak gw, dan keakrabannya dengan Hafizh membuat gw teringat pada gw dan Rival dulu. Hafizh, sikapnya kocak-mencela dan auranya don juan abis, membuat gw gemes pengin ngegambar dia sepanjang sore. Arya pecilaan, konyol seperti troll main balet, dan selalu mengacak rambutnya seperti James Potter, walau alih-alih keren, membuat rambutnya tampak seperti buku basah. Chandra lebih kalem dan diem, walopun sesekali melontarkan banyolan kocak yang membantu. Yah, sebenernya Ian sempet gabung dengan kita-kita dan ngebuat kita ngakak beberapa kali, tapi dia muncul di pertengahan dan pergi sebelum kita semua pulang. Mereka semua sangat membuat gw senang, dan melupakan berbagai masalah yang gw emban sekarang. Well, arigato, ore no kouhai ne!

Udah ah, pengin maen RP lagi *ditampar Shota* euh, maksut gw, nerusin BCE *pundung* so, jaa ne minna!

Minggu, 22 Februari 2009

Rival vs Luka

Pinggang gw sakit. SAKIT BANGET.

Well, halo semua. Udah lama banget yak gw gak nulis? Banyak yang kepingin gw sampein, tapi gw nggak tahu mau nyampeinnya gimana.

Pokoknya, beberapa laporan dari spy-spy dan para informan gw menumpuk banyak banget. Gw baru tahu juga kalo banyak banget anak yang benci sama Luka dan ngedukung gw sepenuhnya buat menolak berbaikan sama dia. Wahh, gw sama sekali gak nyangka. Bahkan anak-anak yang keliatannya deket gitu sama Luka jadi mulai menjauh, karena katanya (katanya sih) Luka mulai bersikap sok banget akhir-akhir ini. Gw sendiri sampe nggak sadar—tahu-tahu aja gw ada di tengah segerombolan anak-anak yang lagi maki-maki Luka sambil berapi-api, dan nyuruh gw jangan pernah maafan sama Luka. Well, kalo gitu, kalian semua, gw nggak akan mengecewakan kalian. Cheers.

Dengan adanya kejadian ini, gw banyak mendapatkan spy-spy dan informan-informan baru. Lumayan juga.

Omong-omong, makin hari gw ngerasa makin improve dengan kemampuan gw sebagai orang yang mengapteni AR. Kalo dulu, gw ngira gw nggak bakal menemukan perang yang lebih hebat daripada perang GA (rival AR milik si Rival, tuh). Tapi ternyata? Ini adalah perang paling hancur yang pernah gw lakukan. Yah, sekejam-kejamnya Rival bertindak, tindakannya masih disadari etika dan beralasan kuat. Lah ini? Lawan gw adalah seorang anak brengsek yang perilakunya jauh lebih buruk daripada perilaku Rival ketika perang GA. Paling nggak Rival masih menghormati adab perang, dan walaupun dia akhirnya kalah pun, dia tetap kalah dengan terhormat dan bukan sebagai pengecut yang berusaha lari dari kenyataan. Sangat kontradiksi dari Luka. Yeah, kadang-kadang orang pinter sama cerdas itu perbedaannya jauh banget.

Oh iya, gw juga baru tahu ada anak kelas 7 yang punya alter-ego.
Namanya Bagas, en nama alter-egonya Eloise.

Setelah gw mikir, kok cenderung yang namanya alter-ego itu lawan jenis yah. Yah, beda lagi sih kalo orang yang punya alter-ego banyak, gw dan Luka misalnya—tapi tetep aja, alter-ego utama (yang paling sering diajak bicara) itu lawan jenis. Alter-ego gw? Iguana Raising (iya, Iguana ada dua, yang satu alter-ego dan satu lagi nyata). Alter-ego Bagas? Eloise. Alter-ego Luka? Antara Ryuuji ato Aoi.

Omong-omong lagi tentang mereka berdua,
gw rada kelimpungan ngurus Delta no Kira.

Well, niat gw buat nulis Delta no Kira masih menggebu-gebu. Masalahnya, gw nggak punya gambar Ryuuji en Aoi versi asli yang sekarang. Gw cuma punya Ryuuji yang dulu, dan Aoi gak punya sama sekali. Gw udah coba sih buat gambarnya, dan menurut gw gambar itu rada lumayan buat standar nggak nyontoh yang original, tapi tetep aja, gak mirip. Yah, nggak papa sih. Kan nggak harus mirip. Di gambar gw, Kai kelihatan lebih sengak (pas adegan dia ngehadang Nagini di pintu masuk Delta HQ) tapi juga keliatan lebih manis (pas adegan dia bunuh diri di depan Icha dan Nagini). Ryuuji keliatan lebih serem en jahat (pas adegan dia bertarung ngelawan Shota dan Selena). Sementara Aoi? Keliatan lebih tua (pas adegan ketemu anggota Delta no Kira) dan lebih mesum (pas dia ngeraba dada Nagini “Man, Nagini, you’re flat.” *dilindes*)

Dan gw ngeganti gambar Shota. Soalnya susah banget sih gambar dia! Rambutnya gak pernah pas gitu jadinya. Akhirnya gw ganti rambutnya, dan kata Afyra dia jadi kelihatan lebih dewasa =_= padahal diantara keempat anggota Delta no Kira, harusnya Shota yang paling kekanakan. Well then, gambar gw pun masih dibilang mirip sama Luka *njedotin kepala ke tembok* dan setelah gw merenung bentar, yeah, ADA LEBIH DARI LIMA ORANG YANG BILANG KAYAK GITU. Oh noes. Dan gw juga cepet sadar kalo orang yang gw gambar berubah sesuai mood. Kemaren lusa mood gw lagi dingin-bete nggak enak gitu, dan alhasil, pas anak-anak pada minta gw gambarin orang di poster bahasa inggris mereka, yang gw gambar adalah…Selena mulu. Kata mereka matanya serem =_=;; walopun di posternya Isna, gw gambar Nagini sih. Tapi tetep tampang bete.

Well, sekarang mood gw lagi horny.
Gambar pairing ahh.

Selasa, 17 Februari 2009

Dua Orang Yang Mesti Diselamatkan

Sekarang gw baru aja dibebani oleh kewajiban untuk menolong dua orang sekaligus.

Yang pertama, seorang anak 8B. Nggak, bukan Tia. Anaknya cowok kok. Gw baru aja dapet berita kalo kayaknya Luka mulai mendekati satu anak ini. Well, bukan baru tahu sih—gw udah tahu sejak jumat kalo gak salah—tapi gw baru mulai sadar kalo ini sebuah bahaya tadi. Luka udah mulai flirting sama anak ini, yang bikin gw langsung nggak enak hati—masalahnya ini orang cukup deket kaitannya sama penasihat AR gw, deket banget malah, dan cara Luka buat ngedeketin cowok satu ini bener-bener ngebuat gw takut. Mual lebih tepatnya. Bener-bener pas laporan tentang dia dan Luka dateng, perut gw langsung berasa panas banget, dan gw pengin banget muntah saat itu juga. Menjijikkan! Dan gw harus segera mengamankan dia dari sentuhan Luka, ato nggak…bakalan gw dorong dia dari lante tiga.

Yang kedua, seorang anak 8D—pernah muncul disini—Dylan. Kali ini gw bukan menyelamatkan dia dari Luka, tapi dari Riddle. Well, lw semua tentu tahu kalo Riddle adalah seorang playboy berat. SANGAT BERAT. Yang gw tahu sih dia sempet jadian sama Dylan dulu sebelum Riddle mulai yang aneh-aneh, dia minta kissing (eeww!) dan tentu aja Dylan nolak, emangnya dia sebego itu apa. Akhirnya mereka putus dan Riddle nyamber anak kelas 7. Sebut aja Miku deh, gw lagi males nyari nama. Well, setelah putus sama Miku (berantem hebat pas putusnya), Riddle nyamber Dylan lagi. Gw sebenernya udah seneng sih—paling nggak Riddle sekarang ditanganin orang bener—cuma gw denger dari Ardan (sebenernya dari spy gw, tapi sumber langsungnya dari Ardan) kalo Riddle bilang dia cuma main-main aja sama Dylan! Dia bakalan mutusin Dylan dan nembak Miku lagi! Gila bener! Andaikan sekarang ini gw lagi dalem kondisi bagus sama Luka, gw bakalan ngirim peringatan ke Dylan lewat dia—tapi seperti yang lw tahu, sekarang gw males ngedeketin anak 8D kecuali beberapa anak (Syanaz, Seisha, Keiko, dsb), dan gw gak bisa ngirim pesen, gitu deh. Takutnya kalo gw yang ngomong langsung dia bakal ngira gw jealous dan sebagainya, dan itu malah sama bahayanya. Uwaah gw pusing! Mana yang harus gw duluin, si anak 8B (sebut Terra) ato Dylan? Mana yang lebih urgent?

Oh yeah, tadi juga ada kejadian menjijikkan.

Well, pelajaran Bahasa Inggris tuh disuruh bikin poster bebas. Gw gambar poster yang secara keseluruhan, ada gambar Nagini yang make baju seragam + cardigan gitu dan megang buku gitu deh. Terus gw kumpulin tuh tugas ke Ms Mai.

Ms Mai ngeliatin poster gw.

“Napa Miss?” gw nanya heran, karena kening Ms Mai berkerut.

“Nggak…kok gambarmu mirip Luka, Sa?” tanya Ms Mai.

Hening.

“Hah?” gw tercengang.

“Iya,” kata Ms Mai. “Gambarmu tuh mirip banget sama Luka.”

“Eww,” gw nggak mampu menahan kejijikan. “Gross!!!”

Gw pissed off. TOTALLY PISSED OFF.

Apa miripnya? Perasaan di gambar Nagini gw nggak ada cowok rambut kuning kecil yang nemplok di kepala. Perasaan nggak ada makhluk biru kanibal aneh di sebelah kiri Nagini. Perasaan nggak ada anak cowok kecil yang cinta angka lima di sebelah kanan Nagini. DAN NAGINI NGGAK PUNYA KUPING KUCING. Hey, Nagini isn’t a weird dumb werecat. She is normal—okay, without breast, but she is normal.

I’m not a werecat.
Yeah, kali-kali gw bikin sign itu ahh.

Jumat, 13 Februari 2009

Hahhaha. Kancut.

Pulang skul tadi, gw langsung onlen. Tangan gw udah keprogram buat ngarahin ke link-link rutin yang slalu gw kunjungin—blog gw sendiri, dasbor, sama blognya Luka.

Gw menunggu dengan hati riang. Lalu gw bukain satu-satu. Sampe akhirnya tiba di blognya Luka.

Hening.

BUSET, GW KAGAK BISA MASUK BLOG ITU MAKHLUK SATU.

Gw njerit.

Beneran njerit.

Ya tuhan, itu orang! Padahal udah tegas banget ada di buku yang pernah gw baca, kalo yang namanya blog itu nggak baik banget kalo dikunci kayak gitu. Well, sebenernya masi ada kemungkinan kalo dia ngunci blognya bentar karena mau direnovasi, but…tetep aja gw agak khawatir, karena itu berarti gw kehilangan salah satu sumber informasi, entah sementara ato selamanya. Yah sebenernya no problemo sih, toh spy-spy gw di sekeliling dia dan beberapa informan masih berfungsi dengan baik, tapi tetep aja, gw ngerasa sedikit khawatir. Akhirnya setelah tarik nafas yang dalem, gw mulai ketawa.

Gw: Hahahha. Hahahha. Haha.
Eldi: Mbak? Mbak Sasha kenapa?
Gw: AHAHAHA.
Eldi: M…mbak? Allahuakbar? *ini anak ngira gw kesurupan*
Gw: HAHAHHAHAHA. KANCUT.

Dan setelah itu gw masih ketawa disertai memaki secara bersamaan. Kancut.

Well then, mari kita berganti ke topik lain, ngapain juga kita ngomongin hal-hal yang nggak enak. Pasti pada heran kenapa gw baru apdet setelah lama bener, yah, ini karena gw baru balik dari pesantren. Hasil dari pesantren itu adalah: nggak ngefek. Banyak guru yang ngarep pulang dari pesantren gw sama Luka udah baikan, tapi yah, kami berdua mengecewakan mereka lagi. Ahaha. Bu Ima ngotot mempersatukan kami lagi sampe kami dikurung di tempat duduk depan supir, BERDUA DOANG, pas perjalanan naik tronton. Sumpah gw betenya kayak apa. Sampe akhirnya saking bosennya, gw sampe tidur bertopang dagu, kepala masih ngadep jendela sebelah kiri (gw duduk di bagian kiri) sementara Luka kadang ngeliat jendela kanan (jendela supir), kadang ngebuka kertas paan tahu. Masa bodo sih. Pas nyampe di lokasi gw langsung ngebuka pintu dan melompat turun, nggak tahan.

Anak-anak (apalagi Tia) sangat mengharap gw dan Luka bakalan baikan setelah muhasabah sadis di malam terakhir. Nadhira malah bilang ke gw dia sempet muter keliling aula buat nyari gw dan Luka, mengharapkan gw sama Luka bakalan pelukan sambil berlinang air mata dan saling minta maaf. I waw. Imajinasinya tinggi banget. Sayangnya harapannya kandas sama sekali, karena setelah ketawa geli ngeliat keadaan aula yang acakadul, gw cuma bersandar di salah satu tiang aula dan menonton anak-anak yang nangis-nangis sambil rangkulan.

Sebenernya harus gw akui, kontak fisik antara gw dan Luka, setelah gw flashback, cuma dua kali, itu pun kontak fisiknya bukan kulit sama kulit. Yang pertama pas muhasabah, karena di seluruh aula itu cuma gw en dia yang nggak nangis, kita juga turun membantu anak-anak yang nangisnya parah. Paling nggak itulah yang gw harapkan. Tapi nggak, walaupun gw kelelahan setengah mati berusaha menenangkan Sevila yang depresi luar biasa, Luka diem. Akhirnya saking nggak sabarnya, gw tusuk lengan atasnya pake kuku. Well, sebenernya niat gw gitu, tapi berhubung tangan gw cenderung kependekan, jadinya kayak cuma nyentuh sekilas dia aja, deh. Pandangannya kosong ketika memandang gw. Gw ingin bicara, tapi Sevila mengamuk lebih kuat lagi dan gw belum sempat menyampaikan apa yang harus gw katakan: bantu mereka!

Kontak fisik kedua, ehm…apa yah?
Oh iya.

Kalo nggak salah pas di kamar mandi di hari terakhir, gw masuk dan ngeliat Vina yang lagi njerit-njerit. Ada kodok. Di kamar mandi pesantren itu emang kodoknya naudzubillah banyaknya. Gw melongok ke salah satu bilik dan mendapati Luka sedang sibuk nyodok kodok pake ujung gagang sapu. Yeah, bego banget. Gimana coba caranya ngusir kodok pake ujung gagang sapu, kan kecil banget. Kalopun bisa juga lama pastinya kan. Gw cuma mandangin aja ketika Luka kerepotan sendiri ngusir kodok itu. Emang keusir sampe keluar bilik, tapi terus nggak bisa keusir keluar kamar mandi. Akhirnya dia nyerah. Nggak sabar lagi, gw naruh peralatan mandi di tangan Vina, mencengkeram tangan Luka, dan merenggut sapu itu dari tangannya.

“Sini,” bentak gw kasar.

Luka cuma ngomong “Ah,” pelan. Well, saat itu gw berusaha keras menahan keinginan buat ngedorong dia sampe jatuh, karena inget itu lagi di kamar mandi dan kalo dia sampe jatuh terus pingsan, bisa-bisa gw kena hukuman. Andaikan nggak takut kena hukuman udah gw dorong jatoh tuh. Pokoknya, langsung gw balik sapu itu dan mengusir keluar kodok itu pake ijuknya, dan tentu aja jauh lebih efektif. Gw sapu kodok itu ke serokan, dan gw lontarkan sampe jauh ke rerumputan di depan. Pas gw membalikkan badan, dia ilang.

Gw ketawa puas di dalam hati. Begitu pula dengan Spy1 sama Spy2 yang gw ceritain tentang hal ini.

“Buset,” kata Spy2 geli. “Dia pasti tengsin banget tuh.”

“So pasti,” sahut Spy1 girang.

Gw diem sambil senyum aja, ngebiarin mereka berdua ketawa geli banget.

Oh iya. Omong-omong, Iguana masih suka bilang gw semestinya baikan sama Luka, tentunya dengan cara yang jauh lebih hati-hati dibandingkan dulu. Gw cuma bisa ketawa aja kalo dia udah mule ngomong kayak gitu. Telat. Gw udah bertindak terlalu jauh. Gw udah terlalu dalam memasukkan tangan gw ke dalam perang ini. Jika gw menariknya lagi, tangan gw bakalan kena sabetan pedang. Lagian juga ada beberapa tawanan yang belom sempet gw selametin. Nggak seru dong kalo mundur. Ini game, udah gw bilang, atas tiga kubu yang berbeda: MASTERplan, Anti-MASTERplan, dan Chess/Grob Plan. Harus gw akuin kalo soal kawanan, Chess Plan jauh lebih unggul. Di bawah Chess Plan ada gw, baru MASTERplan yang punya paling sedikit anggota, kalo diliat-liat. Kalo soal kecerdasan otak, gw sama MASTERplan bisa dibilang seri, sementara Chess Plan dibawah kita berdua.

Tapi jujur aja, perang MASTERplan adalah perang yang paling mendidik dalam sejarah AR sejak terbentuk tahun 2003 lalu. Di perang inilah gw pertama kalinya merasakan aktivitas spy fisik—melompat, berlari, dan sembunyi. Biasanya kan gw berada di balik meja, memerintah dan berpikir, mengatur pergerakan spy bagaikan pion dalam bidak catur. Gw bertindak sebagai wirepuller, sebagai dalang, mengatur sebuah pertunjukan drama aksi yang penuh dengan darah. Tapi kali ini bukan gw yang mengatur—gw pun ikut bermain sebagai pion itu. Berusaha menghindari dari lawan atau memakan lawan sebanyak dan secepat mungkin. Melompat, berlari, dan sembunyi.

Well, besok gw mau nyoba minta foto-foto pesantren kemaren ah. Ada foto gw pas lagi keren banget soalnya. Then, gw mau nyoba gambar Ino ah. Kalo gitu, tha tha for now!

Jumat, 06 Februari 2009

Reply For It

Setelah menyelidiki arsip baru-baru ini, gw ketawa sendiri begitu menyadari kalo post gw sama Luka udah kayak saling reply satu sama lain.

Yah, pertama-tama yang mau gw katakan sehabis ngeliat post kedua terbarunya—dia emang nggak pernah ngerebut kouhai pertama gw secara langsung, harus gw akuin itu. Tapi secara fisik dia ngerebut—karena kouhai gw itu mendapatkan inspirasi atas semua tindakannya pada Amel dan gw dari apa yang dilakukan Luka kepada gw dan Tia. Bagaimana pun Luka bilang kalo dia nggak bersalah dan bla bla bla—dia tetap bersalah, ada kok vonisnya di laporan AR gw. Dia tetap bersalah karena walaupun nggak pernah ngehasut kouhai gw, dia melakukan sesuatu yang menjadi contoh buruk baginya, dan gw akan melakukan apa saja untuk menjauhkan mereka semua dari Luka. Untuk menjauhkan mereka dari kemungkinan nggak punya temen seumur idup.

Dan yeah, harus gw katakan dengan tegas dan bangga, dia ngefitnah Amel. Apakah dia punya bukti Amel cuma memanfaatkan gw? Coba pikir. Satu-satunya yang peduli kalo gw sedih, ya cuma Amel itu. Kan udah pernah gw bilang di post gw dulu, Luka bahkan pernah tahu gw nangis pas dulu banget pas gw masih jadi temenan dia, dan dia tidak sedikitpun peduli. Sementara Amel, dia menemani gw lebih dari sejam, mungkin nyaris sepanjang hari kalau nggak ada pelajaran yang misahin kita berdua, ketika gw cuma sekadar shock berat gara-gara MASTERplan. Bagian mana yang menurutmu “memanfaatkan”, I-Chan? Berani-beraninya dia menghujat Amel atas sesuatu yang sudah dia lakukan ke gw sejak awal! How impatient, how unkind she is!

Next, soal dia mau baikan sama gw. Baik, akhirnya dia bisa mengalahkan harga dirinya yang kelewat tinggi itu dan mengakui kalo dia sempet punya niat untuk baikan sama gw, tapi nggak mencoba karena tahu itu nggak akan berguna. Well, harus gw akui gw melihat ada sedikit usaha untuk berkelit dari kata-katanya tersebut. Usaha untuk menghindari dibilang pembohong. Itu bukan sifat Luka, setahu gw, nggak mencoba sesuatu karena tahu itu nggak berguna. Nggak berguna bukan berarti nggak mungkin, kan? Mungkin dia harus baca Beyond the Beyond-nya Yoshitomo Watanabe sesekali dan menarik pelajaran dari sikap dan pegangan hidup Virid: tidak berguna bukan berarti tak mungkin.

Dasar bodoh,
menentukan hal yang dia lakukan hanya berpegang dari seluruh kata-kata gw di blog.

Oh yeah, gw sekarang menyadari satu hal…perang MASTERplan ternyata bukan hanya pertarungan antara dua kubu saja. Ada satu kubu lagi. Berhubung kubu gw adalah kubu kejam, kubu hitam—dan kubu Luka adalah kubu sok suci, kubu putih—maka satu kubu lain ini adalah kubu abu-abu, penyeimbang dua dunia. Sayangnya, kubu abu-abu luar biasa kuatnya, dan misinya merugikan kami berdua—menyatukan MASTERplan dan Anti-MASTERplan kembali. Kubu abu-abu diketuai oleh Tia, dengan sekitar sepuluh orang anggota inti dibawah pimpinannya, seluruh sekolah bersatu dibawah benderanya, dan guru-guru memberi pasokan kekuatan atas tindakannya. Anehnya—kenapa mesti gw melulu yang diserang? Udah jelas kalo pusat dari seluruh kekacauan ini adalah Luka, tolong jangan desak gw, desaklah dia! Kalo perlu bunuh sekalian! Jadi akhirnya gw bisa meletakkan seluruh beban Anti-MASTERplan di bahu gw dan beristirahat dengan tenang.

And yeah, I’m getting used to it.

Sekedar kabar, keliatannya salah satu spy yang gw tempatkan di dekat Futa membuahkan hasil—petunjuk demi petunjuk tentang who is his own crush mulai muncul dan gw udah mulai memperkirakan orangnya siapa. Berdoalah semoga gw bisa bener-bener memastikan siapa orangnya dan membantu Futa gw tersayang untuk meraih dia. Wish me luck guys.

Sabtu, 31 Januari 2009

Gambar Luka Duluu Banget
















































Okeh, gw sama sekali nggak tahu gw sebenernya mau ngapain. Yang jelas buat ngelepas stres, gw bikin empat gambar diatas, dan hasilnya...yeah, kepala gw sekerang lebih seger. Terus juga setelah melepas stres, akhirnya gw nemu ini:























Yep, setelah ngakak sampe nyaris mati ngeliat gambar diatas, sekarang stres gw udah bener-bener ilang.

Sabtu, 03 Januari 2009

Sasha-Danchi-Mika-Pedo!

Hallo! Gw kemaren jalan ke PIM sama orang-orang yang gw sebutin di judul. Yang jelas hangout kemaren itu penuh dengan hal-hal kocak dan menyenangkan, deh. Mau tahu? Check this out.

Yang jelas kemaren itu gw ke rumah Danchi sekitar…jam berapa ya? Sekitar jam 11 deh kalo gak salah. Terus disana gw ngobrol sama Danchi (baca: jadi seme sehari), sama…yah, onlen lah intinya. Gw ngakak-ngakak bareng ngeliat dev ini dan ini, trus nontonin beberapa yutup en voila, akhirnya kita bosen juga nungguin Mika. Akhirnya sekitar jam 2 Mika dateng pake motor, membawa cerita kalo tadi dia kecebur, makanya balik dulu ke rumah, makanya pula jadi telat. Hiyaah aneh-aneh aja. Yah trus setelah itu kita langsung diskusi bentar antara pilihan mau ke Grand Indonesia, Senayan City, ato PIM. Kalo GI kayaknya kita kesiangan, dan Senayan City kagak ada isinya, jadilah kita ke PIM. Pas nyampe PIM ternyata untungnya tiket film (kita mo nonton Bedtime Stories) udah dibeliin sama bokapnya Danchi, jadi kita duduk di kafenya XXI terus mesen minum (gila, mahalnya selangit lho). Mika dan Danchi mule tuker-tukeran gambar dan gw baca Miiko yang gw pinjem dari Danchi. Ah, gw jadi lupa, sebelum itu si Mika sama Danchi ganti baju di toilet jadi mirip Yoite sama Miharu. Gw emang sengaja diundang kesana buat ngambil foto bagi mereka berdua. Nah berikutnya Pedo-san dateng (gw kagak tahu nama aslinya, tapi karena dia emang “pedo”, kita panggil Pedo-san aja ya) dan mereka bertiga mulailah menggambar sementara gw (yang udah selese baca Miiko) ngeliatin mereka semua.

Nggak bisa dipungkiri gw merasakan diri gw menciut di meja itu. Gimana nggak, ni orang-orang bisa gambar semua, sementara gw? Kemampuan gw jauh dibawah mereka. Dan itulah yang bikin gw nggak ngomong apa-apa di meja dan membuat gw dapet julukan emo dari mereka (yah selaen itu ada hal pelik yang lagi gw pikirin menyangkut sodara gw, makanya gw diem aja). Disaat begini rasanya gw pengen banget nyanyi Tsuki no Kaasu sambil nangis ngesot-ngesot (wakaka kenapa pula Tsuki no Kaasu? Soalnya sekarang gw lagi ngedengerin MP3-nya).

Saat itulah Danchi ngomong, “Eh Sa, bikinin fanfic Kaito-Len dong.”

“Fanfic kayak gimana? Ngikutin cerita aslinya apa kagak?” tanya gw, akhirnya membuka mulut.

“Mang Vocaloid ada cerita aslinya?” Danchi mengerutkan kening.

“Maksudnya ngikutin cerita di lagu gitu?” tanya Mika.

“Ya kira-kira gitu lah.” jawab gw.

“Ah, gak usah Sa. Sesuai imajinasi lw aja, ” kata Danchi bersemangat.

Gw ngangguk dan diem lagi, berusaha ngebayangin cerita yang bagus. Jadilah mereka bertiga ngobrol soal gambar lagi dan gw jadi emo lagi. Trus gw akhirnya nemu crita yang bagus dan gw ngambil papan jalan+kertas, terus pulpen, dan mule nyoba nulis. Tapi lagi-lagi gw stuck karena gw nggak tahu gimana cara ngawalinnya. Akhirnya gw bikin aja awalan Rin yang tereak manggilin Len. Dan terus gitu sampe akhirnya jadi satu halaman—baru awalan doang. Wakaka. Terus gw capek dan gw letakkin tuh pulpen, dan akhirnya gw ngedengerin yang lain yang lagi pada ngobrol semua.

Sementara itu Pedo-san lagi ngomongin tentang kegunaan huruf X bagi hal-hal misterius (berhubung 21 tempat kita berada pake angka romawi XXI, dan bagi mereka, bioskop ini misterius—kayaknya). Dia nunjuk susu di gelasnya dan ngomong, “Ini susu X nih, masih misterius!”

Mika en Danchi ketawa.

Pedo-san noleh dan mendapati gw lagi mandang dia.

“Nah, dia cewek misterius,” kata Pedo-san geli. “Makanya namanya cewek X!”

Mika en Danchi ngakak.

Terus Pedo-san ngeliat kertas yang gw pake buat nulis fanfic.

“Nah, kita kan belom tahu itu fanfic isinya apa,” kata dia lagi. “Makanya namanya fanfic X!”

Sementara Mika dan Danchi udah ketawa sampe sakit perut, gw tersenyum kecil. Pedo-san nyengir, puas (kayaknya dia puas udah bikin Mika dan Danchi nyaris mati ketawa deh).

Terus berikutnya gw pengin nerusin fanfic lagi, tapi kok kayaknya capek yah. Gw bosen nulis terus. Akhirnya gw ngambil salah satu gambar gw—gambar Nagini yang lagi kesel, dengan tulisan disampingnya gede-gede, “Kai…futari no kioku ni kagi wo kekeru to…” dan mencoba buat nge-ink gambar itu.

“Eh Sa,” kata Danchi setelah lama berselang. “Liat Fanfic-nya dong.”

Gw nyopot kertas fanfic dan ngasi ke Danch. “Itu belom selese lho, Danch.”

“Kalo gitu selesein dulu deh,” kata Danchi. “Nanti taroh di blog.”

“Hiyaa, jangan! Gw bisa dibunuh kalo ngepost yaoi di blog.”

“Ya udah, deviantart aja,” kata Danchi pasrah.

Gw kembali mandang papan jalan...LHA PAPAN JALAN GW MANA?

“Oi, non,” kata Mika. “Ini pake drawing pen ato paan?”

Gw pucet. GEBLEK, PAPAN JALAN GW ADA DI MIKA.

“Ah?” gw berusaha mempertahankan ketenangan, dan ngeliat halaman yang lagi dibuka Mika. Oh, gambar Nagini yang udah gw ink. “Nggak kok, pake boxy biasa.”

“Ow,” Mika kembali mencermati gambar gw.

Sementara Pedo-san masih menekuni gambar yang dia bikin. Gw diem kayak awal lagi, dan terus begitu sampe beberapa menit ke depan ketika yang laen dah pada ngobrol lagi. Sementara itu, pandangan gw jatuh ke gambar Pedo-san.

Satu yang sangat gw kagumi dari gambar Pedo-san—gambarnya alus, dia bisa ngarsir pake tisu. Dia juga bisa bikin arsiran di lekukan tanpa keliatan aneh, dan sumpah…gw kagum banget dengan hal itu, melebihi gambar siapapun di dunia ini. Karena proporsionalnya tetep anime style tapi dengan cara realistis…itu keren. Keren sekali, nak.

Yeah, I’m getting used to it.

Pokoknya gw perhatiin gambar itu dan diem lagi. Kalo diitung-itung gw emang hemat bicara banget waktu itu. Lalu akhirnya gw buka mulut.

“Itu…mirip Tsubasa Ando.”

“Hah?” Pedo-san, Mika, dan Danchi mendongak, ketiganya mandang gw.

“Gambarnya,” gw memandang kertas di tangan Pedo-san. “Mirip Tsubasa Ando.”

“Style ato wajahnya, Sa?” tanya Danchi.

“Wajahnya.”

“Tsubasa Ando?” Mika dan Pedo-san pandang-pandangan, keliahatnnya berpikir keras buat mengingat mana Tsubasa Ando itu. Danchi keliatannya juga. “Yang mana, ya?”

“Tsubasa Ando, Alice Academy. Gakuen Arisu.” kata gw pelan.

Hening sejenak.

“Oh!” kata Mika, Pedo-san, dan Danchi bersamaan. “Ya, ya, gw inget!”

Semuanya mandangin gambar Pedo-san. “Iya, iya, beneran, mirip! Yang selalu pake topi itu, kan? Ya, ya, mirip!”

Gw tersenyum tipis sambil ngeliatin antusiasme yang lainnya, dan akhirnya gw nemuin satu moral hari itu.

Ternyata orang yang hemat bicara, ucapannya ditunggu dan ditanggapi banyak orang.

Teruslah kita ngobrol lagi (baca: mereka bertiga ngobrol, gw diem) sementara nunggu film-nya jam lima mule. Pas mbak-mbak di interkom udah ngomong kalo film-nya udah mule, kita pada bingung. Soalnya emang bokapnya Danchi ngebeliin empat tiket buat Danchi, gw, Mika, sama mbaknya Danchi (bokapnya kagak tahu tentang Pedo-san)—tapi mbaknya Danchi udah ilang entah kemana. Jadilah setelah berembuk sementara, kita ngasi tiket terakhir ke Pedo-san, terus Pedo-san tinggal bayar ganti rugi ke Danchi. Terus kita ngurusin pembayaran, dan gw sama Danchi ke toilet sementara Mika sama Pedo-san ngurusin popcorn. Ehh ternyata pas kita keluar (gw sama Danchi), ternyata ada sedikit masalah double paying sehingga kita ngurusin lagi. Akhirnya gw sama Danchi masuk duluan, sementara Mika sama Pedo-san kayaknya masih ribet ngurusin popcorn.

Oh iya, informasi: karena waktu itu pas bokap Danchi beli tiket, tiketnya udah penuh sehingga kita dapet deretan baris kayak kereta—Pedo-san di A22, gw di B22, Danchi di C22, dan Mika di D22. Iya, vertikal gitu. Ancur kan? Yah pokoknya gw dan Danchi duduk di kursi masing-masing. Dan nungguin Mika sama Pedo-san. Setelah agak lama baru mereka muncul. Mika ngasi popcorn ke Danchi, sementara Pedo-san ngasi popcorn ke gw.

Setelah gw nonton Bedtime Stories (yang full humor-parodi gitu) kita segera keluar lagi, dan ngumpul berempat. Kita nentuin mau makan dimana. Kita berdebat soalnya pada nggak setuju sama ide yang lain—Danchi pengen ke poke sushi, sementara gw menolak ide itu dengan alasan mahal banget, dan Mika nolak soalnya dia nggak suka sushi. Walah walah. Pedo-san nggak mau komentar apa-apa, karena dia misah sama kita pas makan. Akhirnya terus kita makan di poke sushi—gw en Danchi mesen salmon roll (yang murah! Laennya mahal banget dayo =_=) sementara Mika pesen katsudon. Pada akhirnya katsudon itu nggak abis dia makan sendiri, jadi gw en Danchi juga ikutan makan. Di siklus ini gw lebih lepas ngomong daripada pas di XXI, karena kali ini bukan pembicaraan tentang gambar, toh? Gw motret mereka pas makan (liat poto-poto yang gw sertain) dan sisanya yang gak keliatan lagi duduk adalah kita poto-poto di toilet (iya, DI TOILET. Untung aja nggak rame). Terus gw disuruh pulang sama nyokap soalnya udah malem (jam sembilan waktu itu) dan kita semua pada lari-lari buat ngumpul. Kita nungguin si Pedo-san dulu, baru kita nyari mbaknya Danchi yang ilang—eh ternyata dia ada di XXI. Yo weis, terus kita pulang—gw, Danchi, sama mbaknya satu taksi, terus Mika satu taksi, dan Pedo-san taksi laen lagi. Di dalem taksi Danchi baru sadar kalo topinya ada di Mika dan belom diambil, dan dia meratap terus sepanjang perjalanan pulang. Kasian, hahaha.

Yah well selanjutnya berjalan seperti biasalah, gw dianter ke McD cibubur karena bokap njemput disana, terus gw pulang deh. Ahh, selese sudah! Olret, gw dah capek ngetik! Jaa ne!













































































































Sabtu, 27 Desember 2008

How to Be an AR

Nah well, gw lagi dalam mood gak-pengen-kerja-uwakh-bakalan-disambit-klien-nih *beneran disambit* karena entah kenapa kok ms word gw ngadat lagi, kalo mau nulis tanda kutip malah muncul tanda aneh gitu. Makanya gw berhenti kerja dulu deh, dan nulis blog aja.

Yah, ada beberapa orang di skul gw yang minta masuk AR (yang belom tahu AR itu apa, imel gw secara pribadi). Jujur aja, jadi AR itu nggak gampang. Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi (dan jujur aja, kriteria ini adalah semua kriteria yang paling gw kuasain, ya jelaslah gw ketuanya), dan inilah kriteria-kriterianya :

1. Cerdas
Ya iyalah harus cerdas, namanya juga AR. Seorang AR harus cerdas, karena ada berbagai misi yang harus dijalanin, dan nggak sembarang orang yang punya kriteria cerdas ala AR ini. Paling banter dia punya IQ diatas 120 (standarnya kecil ya?), bisa mendeteksi adanya gerakan tidak dikenal dari suatu objek aktif, dan lain sebagainya.

2. Pinter Bermain Kata
Seorang AR itu banyak menipu dan membujuk orang. Kalo gak pinter maen kata mau jadi apa lw? Lagipula kita juga harus bisa menyembunyikan perasaan asli dalam kata-kata, dan itu nggak semudah yang lw bayangin, lho. Lw juga harus bisa mendeteksi orang dari kata-katanya, dan juga bisa menstabilkan emosi orang yang lagi labil hanya dengan kata-kata. Kemungkinan besar orang hopeless yang lagi mo bunuh diri bisa lw sembuhin, lho.

3. Waspada
Inget, AR itu banyak musuhnya. Banyak orang yang berusaha menjatuhkan AR dengan cara menyerang anggotanya (soalnya ketuanya nggak mungkin, terlalu kuat wahaha *hit by enemies*). Karena itu lw harus selalu waspada dengan tindak-tanduk siapapun. Banyak juga orang yang mempunyai kewaspadaan tinggi dan sadar kalo dia lagi diselidikin sama AR, dan seorang AR harus segera menyadari hal ini, lho, tandanya harus waspada—supaya dia nggak sampe kena jebak.

4. Jahat+Kurang Ajar
Kriteria apaan nih? But, totally, it’s true. Kadang ada permintaan dari klien untuk balas dendam, dan itu berarti kita harus kurang ajar, kan? Nah well, kalo soal kriteria yang ini gw gak bisa ngomong banyak, karena cara penyeleksiannya dengan mengamati sang anggota itu sendiri. Hal ini hanya akan dibicarakan kepada anggota AR.

5. Berani dan Bisa Jahat
Ada beberapa orang yang memang bisa jahat, tapi nggak berani. Ada orang yang nggak keberatan berbuat jahat, tapi malah nggak bisa. Nah, AR harus bisa keduanya. Baru-baru ini gw menghancurkan salah satu website orang karena orang itu, yah, bisa dikatakan merupakan musuh AR dan luar biasa mengganggu. Kalo nggak berani, mana bisa gw melakukan itu? Tapi kalo cuma berani doang, mana bisa gw ngancurin website orang? Karena itulah, kedua sifat ini sangat dibutuhkan orang AR.

Yah, kira-kira itulah yang dibutuhkan. Sebenernya masih banyak banget, tapi yang sangat inti ya ini. Well then, kalo ada yang tertarik masuk AR, silahkan imel gw secara pribadi. Kalo lw keliatannya oke, gw bisa memasukkan lw ke organisasi bergengsi ini, lho.

Oh ya, tapi jangan harap anggota AR tahu tentang anggota AR laennya—bahkan siapa aja yang jadi anggota AR aja mereka nggak pernah gw kasih tahu, lho. Karena besar kemungkinan kalo si anggota AR ini udah sign out dari AR, dia bisa ngebocorin rahasia perusahaan. Nah kalo gini kan gawat. Makanya gw hanya memberitahu seperlunya kepada anggota AR—misalnya anggota AR lain yang ternyata sangat dibutuhkan untuk membantu koneksi, atau salah satu rahasia perusahaan yang dibutuhkan untuk mengurai suatu kasus. Jadi jangan ada yang niat masuk AR cuma karena mau ngorek informasi dalam. Oke, jaa ne!

Sabtu, 20 Desember 2008

Heaven Time Yaay~

Horee akhirnya sodara-sodara…ujian udah selese! Akhirnya saya bebaaaassss!!!!

Sekedar inpo, gw baru aja berhasil melewati minggu bagaikan neraka yang penuh dengan ujian. Dalam satu hari itu ada dua ujian (kecuali hari ini, cuman atu) dan itu artinya…MATI AJA LW. Gw udah kayak payung gitu selama ujian saking susahnya (lahh~ apa hubungannya sama payung) dan hari ini gw pulang dengan hati riang. Nyampe di rumah, yang pertama kali gw lakukan adalah tereak, “OOH UJIAN UDAH SELESAI! HOLIDAY IS ROCKS! OOH PERGI KE LAUT SAJA KAU UJIAN DASAR ANAK SETAN!” dan akhirnya kesandung kucing gw yang lagi tidur kayak kebo di keset.

Totally, it’s true.

Well then, ngapain kita inget-inget ujian? Mari kita bicarakan berbagai hal yang sedang terjadi dan akan terjadi.

Pertama, kasur gw. Sekarang kasur gw udah kayak meja sekretaris gitu, deh. Di kasur gw itu ada buku komik Alice Academy seluruh jilid, empat komik Doraemon, dompet, Alfalink, hape, rautan, tempat pensil, papan jalan, gambar-gambar gw, kertas A4 kosong (sebundel gitu), buku ensiklopedia dengan kover keras, sama tisu.

Buat apakah semua barang itu sodara-sodara?

Yakh~ berubung baru-baru ini gw lagi getol-getolnya gambar, gw pun mulai suka gambar kalo nggak tahu mo ngapain, misalnya kompi lagi dipake bokap/adek gw ato ternyata kucing gw lagi bercinta sama CPU. Dan yang namanya gambar pemula itu, gimana-gimana pasti tetep butuh sampel. Karena itulah gw boyong seluruh Alice Academy ke kasur (yang merupakan tempat dimana gw ngegambar dengan biadab…dan berhubungan seksual dengan guling) karena jujur menurut gw gambar Tachibana Higuchi itu oke banget, dan dibandingin dengan M to N no Shouzou, gw lebih suka gambarnya Alice Academy. Sementara gunanya komik Doraemon adalah buat hiburan, nggak lebih.

Yahh…berhubung lagi kalo gw gambar dan ngasi tulisan biasanya pake bahasa inggris, maka gw selalu sedia Alfalink. Dompet? Biasanya buat mengalihkan perhatian kucing gw kalo dia udah mulai mengganggu—gw tinggal ngelempar duit dan dia bakalan ngejar. Seriously, ini sering terjadi (tapi memang nggak selalu—apalagi kalo yang gw lempar cuma gopek), merupakan bukti bagi gw kalo kelakuan peliharaan itu mirip sama majikannya.

Back to topic, gw juga selalu naroh hape di kasur karena supaya kalo ada yang ngehubungin, gw bisa langsung menjawab. Nggak kayak dulu pas gw lupa naroh hape di kasur, pagi-pagi gw lagi tidur ketika ada sms dateng ke hape. Masalahnya tuh hape ada di meja (kan lupa gw taroh di kasur) jadi gw ngerangkak-ngerangkak gak jelas gitu sambil ngantuk ke meja. Gw buka smsnya.

Udah bangun?

Hapenya gw lempar. Dan kembali gw nyusruk ke dalem selimut. Jangan tanya siapa yang sms. Pokoknya jangan.

Well, pokoknya, kesimpulan gw naroh hape ya supaya bisa dihubungin itu. Sementara kegunaan rautan adalah ngeraut pensil kalo pensil yang gw pake buat gambar udah mulai tumpul. Terus tempat pensil berisi berbagai barang buat gambar, jelas. Papan jalan adalah pengganti meja, jadi gw bisa gambar tanpa pensilnya nembus kertas. Gambar-gambar gw, gw tumpuk dengan biadab. Kertas-kertas A4 ya buat gw gambarin. Sementara buku ensiklopedia buat jadi meja kedua. Gw suka naroh minuman sama makanan diatasnya, soalnya kalo gw taroh langsung di kasur ya nanti tumpah dong. Dan tisu, buat ngelap kasur kalo sampe ada minuman yang tumpah. Biasanya sih disenggol kucing gw.

Caution: semua barang yang gw sebutin tadi itu tetep ada di kasur bahkan ketika gw tidur. Jadi bukan setelah gw gambar terus gw beresin lagi dengan manis, ya kagaklah. Jadi ya emang beneran meja gitu. Gw lagi nyari gabus yang bisa ditempel di dinding terus gw tusukin pake jarum biar gw bisa nempel-nempel gambar, kan lebih enak gitu daripada gw ngeberantakin folder nyari gambar yang gw cari.

Well, mau nulis kejadian yang akan datang kok males ya. Udah dulu deh. Nanti gw sambung lagi. Jaa!

Selasa, 02 Desember 2008

Full-Shota Life

Ahh~ senangnya bisa kembali…

Hei hei! Lagi dalam mood bagus! Karena gw baru aja menyadari kalo hidup gw ternyata…penuh dengan cowok-cowok shota…

Paling nggak, yang deket sama gw ada tiga.

Yang paling pertama tentu aja Iguana dong, hahaha. He is cute! Kyaa kawaii shotaa gitu lahh, ah pokoke imut deh. Ya begini ini kalo orang baru punya hak buat ngomong aishiteru ke orang dengan bebas (aishiteru, Gun!) jadinya orangnya dipuji terus deh. Wakakak.

Yang kedua, pelatih jurnal gw, Kak Phudin.

Sang pelatih atu ini banyak panggilannya. Riddle manggilnya sederhana, Udin =_= sementara sebagian besar anak-anak manggilnya Kak Ifu…iya sih unik ya. Gw sih seneng manggilnya Kak Phudin, soalnya pas ngeimel gw, Kak Phudin pake nama itu…ya gitu dehh. Pokoknya tampangnya Kak Phudin ini juga rada shota gitu tapi kecampur sama tampang mature gitu deh =_= aneh ya, bukan shota dong. Tahu ah. Yang jelas gw anggep Kak Phudin punya shota-face.

Yang ketiga…tentu aja…Futa.

Terus terang gw kan bukan apa-apanya Futa (ampun Gun!) jadi (Iguana bilang) gw harusnya gak muji dia shota…tapi gimana ya, jujur kok. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa bikin gw nyaris nosebleed.

Master: Eh Sha~ ulangan agama tentang apa sih?
Futa: Iya...tentang paan sih?
Gw: Tahu…zakat sama shalat sunah gitu deh kalo gak salah.
Futa: Oh…oh iya…thanks ya *senyum*
Gw: … *lari kabur, idung siap nosebleed*

Yahh,
kira-kira gitu, deh.

Yak itulah laporan shota gw (apaan sih ni post ga jelas banget? *digebukin readers*) yang jelas sih gw suka banget sama shota ^^ hidup shota! Shota rules! Oohh! *angkat bambu runcing*